Barista #SpecialProjectforMino

Title: Barista #SpecialProjectforMino

Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Song Mino (WINNER)

Genre: romance
Length: Oneshoot
Rating: PG-15

Ini FF special for Mino Birthday.

Happy Birthday Mino oppa ^^

-Sorry late post, ada sedikit masalah, mian- *bow*

Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.

Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v

No plagiat.

No bash.

Jangan lupa comment

For Readers, Happy Reading ^^

.

.

.

*Mino POV*

Aku semakin mencintai pekerjaanku ini. Barista. Selain aku yang memang hobi membuat kopi, aku juga dapat melihat bermacam-macam kaum yeoja disini. Biar kusebutkan mulai dari hot mom, para sosialita, business women, pekerja swasta, remaja-remaja gaul, dan kaum yeoja yang paling langka adalah kaum yeoja yang dapat membuatku jatuh cinta. Well educated women, mungkin dia dari kaum ini. Dengan buku-buku besar dan tebal, laptop hitam yang setia dibawanya, alat tulis lengkap, semuanya dimasukkan kedalam ransel besarnya yang sudah mulai kusam dengan warna yang sudah mulai pudar dimakan waktu. Dia selalu datang sendirian. Dialah orang yang turut ambil andil kenapa aku makin mencintai pekerjaanku ini. “Ponytail” begitulah sebutanku untuknya. Rambutnya yang sebahu selalu dikucir satu, kacamata besar yang menutupi wajahnya yang kecil, dan juga bibir kecil yang jarang terbuka disini. Minuman yang paling sering dia pesan adalah vanilla latte. Aku juga bisa megetahui kalau dia ini adalah seorang coffeeholic. Aku paling suka saat tetesan-tetesan latte itu tertinggal dibibir atasnya. Membuatku ingin langsung menyesapnya. Ehemm, kembali fokus Mino. Oke, aku akan menceritakan “Ponytail” kembali. Sudah sebulan dia selalu datang ke café dimana aku bekerja ini. Dan sudah selama itu juga aku menyukainya. Tapi sampai sekarang aku belum pernah mengucapkan sepatah kata apapun padanya.

Ting ting

Bel dipintu masuk berbunyi. Jam 4, saat inilah “Ponytail” datang.

“Tolong 1 vanilla lattenya. Kamsahanida.” Pasti dia akan memesan minuman itu. senyuman yang ramah dan tutur katanya yang santun membuatku sangat gemas.

“Yak Mino, itu ada pesanan. Jangan lihat yeoja yang itu terus dong. Fokus.” teguran temanku itu membuatku berhenti memperhatikan “Ponytail”.

“Kalau memang suka, ajak bicara. Bukannya dipelototi terus. Dasar namja pengecut.” sindir temanku.

“Bukannya begitu.”

“Tapi?”

“Belum waktunya.”

“Kapan? Kalau kau tidak cepat, aku yang akan mendekatinya lebih dahulu.”

“Yak!”

“Sini, dia pesan vanilla latte lagi kan?”

Dia mengambil secarik tissue. Ditulisnya tissue itu “Hi, boleh kenalan?”, lalu dia menaruh tissue itu dibawah cangkir kopi yang “Ponytail” pesan.

“Kau ini.” protesku.

Dengan bantuan pelayan, vanilla latte plus tissue itu mendarat mulus diatas mejanya.

Dia menatap heran tissue itu. Tak lama dia menatap tajam kearahku. Apa salahku? Dia langsung meminum vanilla latte itu, dan kembali melanjutkan pekerjaan sibuknya.

Sudah cangkir kelima dari vanilla latte yang dia minum. Tak aneh, kan sudah kubilang kalau dia itu coffeeholic. Dia terlihat lebih lelah dan lebih galak hari ini. Wajahnya memang cuek, tapi tetap manis untukku.

Café sudah mau tutup, dan dia ketiduran sejak 1 jam yang lalu. Kasihan, bahkan 5 cangkir kopi tak mempan untuk menahan kantuknya.

“Mino, coba bangunkan dia. Kita ingin beres-beres.” perintah bosku.

“Modus, modus. Ehem.” ujar temanku dengan evil smilenya.

Aku tersenyum penuh kemenangan. Kapan lagi kesempatan emas seperti ini akan terulang lagi? Aku menghampirinya dan mencoba untuk membangunkannya.

“Maaf, café kami akan segera ditutup. Nona, bisakah kau bangun?”

Dia terbangun, mukanya pucat, matanya sayu, dan suhu tubuhnya sangat tinggi. Perlahan darah segar keluar dari hidungnya dan kesadarannya dirinya juga hilang. Astaga, harus apa aku ini?

*Mino POV end*

*Author POV*

Mino langsung menggendong “Ponytail” kerumah sakit terdekat.

“Dia kelelahan. Sebaiknya berikan waktu baginya untuk rehat dulu sejenak. Dari apa yang kulihat, dia itu sering sekali minum kopi. Apa kau tidak tahu kalau dia punya masalah magh? Jangan biasakan dia untuk minum kopi terus, sudah maghnya terganggu, waktu tidurnya pun ikut terganggu.”

“Iya dok, saya akan lebih menjaganya lagi.”

“Aku mau tanya, apa namanya benar-benar Ponytail?”

“Akh, itu hem… panggilan sayang.”

“Oh.. kalian pasangan yang lucu juga ya.”

Mino tertawa, pasangan? Ternyata dokter juga merestui Mino untuk dekat dengan “Ponytail”.

“Kalau begitu, saya permisi. Kau sudah boleh menengoknya.”

Mino pun berjalan mendekati “Ponytail”  duduk disisi kasur.

“Sudah sadar?” tanya Mino pelan.

“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung.

Mino tersenyum. Baru kali ini dia lihat bagaiman cantiknya “Ponytail” dengan rambut yang digerai, dan kacamata culunnya yang dilepas.

“Kau pingsan saat dicafé tadi.” ucap Mino menjelaskan.

Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Apa kau ingin kubelikan sesuatu?” tanya Mino mengalihkan topic.

“Aku ingin pulang.” pintanya singkat.

“Perkataanya sangat singkat dan cuek. Apa seperti ini dia sebenarnya?” tanya Mino dalam hati.

“Mr. Barista, bisakah aku pulang?” deliknya tajam.

“Mr. Barista?” Mino seakan tidak setuju jika dia memanggilnya dengan panggilan itu.

“Wae? Tidak suka? Kalau kau tidak suka dinamai seperti itu, kenapa kau menamai aku “Ponytail”? Sangat kekanakan.” ketusnya.

“Ponytail” tidak setuju dengan gelang pengenal yang ada ditangannya. Nama apa yang tertulis disini?

“Habisnya..” Mino berusaha membela diri.

“Yoonhee, Jung Yoonhee.” ternyata dia sudah tahu apa yang Mino maksud.

“Aku Mino. Song Mino.”

Yoonhee tersenyum. Kepribadiannya lucu, bisa berubah dengan cepat.

“Aku ingin pulang.” Yoonhee turun dari tempat tidurnya.

“Biar kubantu.”

Mino mengantar Yoonhee pulang. Biarpun hanya dengan jalan kaki. Tapi Mino sangat suka saat-saat seperti ini.

“Sudah sampai.” Yoonhee berhenti didepan rumah yang cukup besar.

“Kau tinggal sendiri?” tanya Mino heran.

Yoonhee hanya mengangguk.

“Kalau begitu. Selamat malam.” Mino mengucapkan salamnya itu.

“Sampai jumpa, Mr. Barista.”

*Author POV end*

*Mino POV*

“Sampai jumpa, Mr. Barista.”

Yaampun, ini adalah hari terbaik dan akan selalu menjadi hari terbaik.

Keesokan harinya, seperti biasanya aku menunggu kapan pintu itu akan dibuka oleh Yoonhee. Tapi, nihil. Hari ini dia tidak datang. Mungkin dia sedang beristirahat. Tapi hari esoknya, dan esoknya lagi. Batang hidungnya pun tak Nampak. Ini sudah hampir 8 bulan dia tidak kemari. Yoonhee-ya, kau dimana?

“Masih menunggu “Ponytail”?” tanya temanku iseng.

Aku hanya mengangguk. Aku sangat merindukannya.

“Dia sudah menikah.” ujarnya enteng.

“MWO?!”

“Aku bercanda. Hehehe..”

“Sekali lagi kau bercanda, aku akan menendangmu.” Ujarku marah.

“Damai. Kau dapat surat undangan.”

Dia menyerahkan secarik undangan. Warnanya coklat dan juga emas. Sangat elegan.

Tertuju: Song Mino

Ini undangan agar aku datang ke pembukaan perdana café itu. iya, itu undangan dari salah satu café yang baru buka didaerah ini. Saingan, mungkin.

“Kau datang?” temanku penasaran.

“Ini acara khusus untuk semua barista. Kurasa akan menyenangkan.”

“Kalau begitu, bersiaplah. Acaranya malam ini.”

Aku datang dengan tuxedo lengkapku ini. Café itu sangat besar dan membuat mataku teduh. Warna catnya dominan coklat dengan sedikit warna emas yang membuatnya tampak lebih elegan.

Ms. Ponytail

Begitulah nama café ini. Wait, apa?

“Masuklah. Ini tanda pengenalmu.” seseorang memberiku name tag yang bertuliskan namaku dan juga café asalku. Sungguh sangat resmi dan “mahal”.

Aku masuk, ada banyak sekali orang didalam, yang jelas tak kukenal. Barista dari café diseluruh Korea mungkin.

“Ini cappuccinonya.”

Seorang yeoja menyodorkan secangkir cappuccino. Dengan rapi, cappuccino itu bertaburkan bubuk granula yang membentuk kata-kata Hi!

“Apa, ini?”

Yeoja itu hanya tersenyum.

“Ne-neo, Yoonhee.”

Senyumannya makin lebar.

“Long time no see, huh?” akhirnya dia angkat bicara.

Kami berjalan keluar, menikmati taman yang ada dibelakang cafénya.

“Jadi, sudah berapa lama?” Yoonhee membuka percakapan.

“Apa? Kita tidak bertemu?” ujarku heran.

“Kau menyukaiku.”

Astaga, Yoonhee adalah yeoja yang sangat percaya diri. Bagaiman dia bisa tahu itu?

“Jawab.” kata Yoonhee dingin.

Lama tak menjawab, Yoonhee menertawakanku yang daritadi memang diam terpaku.

“Aku membuka café ini karena aku jatuh cinta terhadap seorang barista yang sering membuatkanku vanilla latte.”

Sebenarnya apa maksud dari semuanya itu? Apa dia sedang mengungkapkan perasaannya terhadapku?

“Hey, Mino sunbae, apa yang kau pikirkan?” Yoonhee memecah segala kegusaranku.

“A-ani.”

“Tenang, namja itu bukan kau.”

MWO?! Kau tahu rasanya seperti diangkat lalu dibanting keras-keras. Ini sakit sekali.

“Dia dosen yang mengajariku. Masih muda dan tampan. Aku berusaha agar masuk jurusan barista demi bisa bertemu dengan dia. Dengan rajin aku datang ke kampus, dan dengan rajin juga dia membuatkan vanilla latte untukku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengatakan bahwa aku mencintainya saat lulus nanti. Tapi apa mau dikata, 3 bulan sebelum kelulusan, dia menikah. Miris bukan? Dia bilang, aku itu hanya sebagai adiknya saja, tak lebih.”

Dengan senyum miring itu, Yoonhee kembali melanjutkan ceritanya.

“Aku sakit hati, pasti. Tapi aku tidak mau membuat diriku semakin terpuruk. Aku harus lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Itu mengapa aku sering berkunjung ke café dimana kau bekerja, dan saat itulah aku jatuh cinta.”

Aku serasa ingin tersenyum, dia..

“Jatuh cinta pada vanilla latte buatanmu.”

“Mwo-ya? Yak, Yoonhee. Kau benar-benar yeoja yang menyebalkan, tapi cantik.” rutukku dalam hati.

“Berkat vanilla lattemu, aku bertekad untuk membuat sebuah café sendiri. Aku mulai membangunnya dan belajar lebih giat lagi untuk membuat kopi. Alasan aku sering ke café mu adalah, untuk mensurvei minuman apa yang jadi favortinya. Bagaimana menurutmu?”

Dia memberikan pertanyaan itu. Kurasa kisahnya sudah berakhir.

“Ka-kau, mengagumkan.”

Dia tertawa, matanya berbinar. Kupandang dirinya yang sebegitu hebatnya dimataku.

“Lalu, aku bertemu seorang barista yang genitnya minta ampun…”

“Hah?”

Kami berdua bertatapan. Dia masih tesenyum. Senyumannya begitu jahil, aku sampai bingung, apa maksud dari semuanya ini.

“..kau, Song Mino.”

“Mwo?” tanyaku heran.

“Kaulah barista genit itu.”

“Bu-bukan begitu, a-aku..” Aku berusaha membela diri, tapi Yoonhee semakin keras menertawaiku.

“Mino sunbae…” suaranya mendadak menjadi serius. Mau apa dia?

“..aku haus. Minta cappuccinomu, ya.”

Dia menarik gelas cappuccino yang daritadi aku pegang.

“Yoonhee-ya..”

Cup

“Maaf, aku sudah tidak kuat lagi. Sudah lama aku menunggu untuk melakukan ini.” Aku menyesap tetesan-tetesan kopi yang tertinggal dibibir atasnya. Kalian tahu, kopi ini menjadi semakin manis dibibirnya.

“Mi-mino sunbae..” Yoonhee kaget, dibulatkan kedua matanya yang memang sudah bulat itu. Dia belum bisa terima atas apa yang aku lakukan tadi.

“Shhtt..” aku menahan birnya yang menganga dengan telunjukku.

Cup

Aku mengecupnya untuk kedua kalinya. Rasanya lebih enak, dan lebih manis daripada kopi. Awalnya hanya kecupan sekarang menjadi lumatan. Beruntungnya aku, Yoonhee tidak mengelak dan justru mengikutinya.

“Mi-mino sunbae..” nafasnya sudah tersenggal-senggal. Membuatku ingin menciumnya kembali.

“Oppa saja, tolong.” pintaku.

“Oppa, apa-apaan ini?” ucapnya lirih.

“Aku hanya ingin membuatmu jatuh cinta padaku. Bagaimana?”

Dia menatapku dengan tatapan marah. Lama, dan… menggoda/?

Cup

Yoonhee menciumku. Omo! Aku benar-benar menyukai yeoja ini.

“Yoonhee-ya..”

Kulepaskan ciuman itu. Yoonhee seperti tidak bisa menahan ciuman panas kami itu. Well, sebenarnya aku yang belum bisa tahan. Takut hal-hal yang begitu akan terjadi secepat ini.

“Kau itu lebih dari sekedar vanilla latte bagiku.” ujarnya diakhir ciuman kami.

“Maksudmu?”

“Oppa pabbo, masa aku harus bilang ini sebelum kau.” ucapnya jengkel. Aku tahu apa yang dia maksud ini.

“Kau menyukaiku?” tanyaku ragu.

Dia mempoutkan bibirnya. Pasti tadi aku salah bicara.

“Dasar namja tidak peka.” ujarnya dengan nada menghina.

“Jadi maksudmu membawaku kesini adalah untuk..”

“Wae? Kau tidak suka?”

Aku menggeleng.

“Jadi, sudah berapa lama?” pertanyaan diawal percakapan kami diulang olehnya.

“Love at the first sight.” jawabku mantap.

“Benarkah? Jadi bukan aku saja ternyata.” Selalu, kata-katanya membuatku penasaran.

“Apa maksudmu?” tanyaku heran.

“Me, too. Love you at the first sight.”

Kami berdua tersenyum. Hari ini, kami resmi menjadi sepasang kekasih. Kudekap dirinya kedalam back hugku. Dan kami menatap langit malam yang disinari bintang.

“Jadi kapan?” Yoonhee kembali bertanya.

“Apanya?”

“Kau menikahiku.”

“Mwo? Kau ini. Kita baru berpacaran.” Gadis ini, benar-benar.

Dia menghembuskan nafas beratnya.

“Berjanjilah kalau kau adalah namja yang akan menikahiku. Promise?”

Kali ini aku merasa, kalau apa yang dikatakannya adalah kata-kata yang serius, dan juga tulus.

“Ya, aku berjanji.”

Aku mengusap kepalanya, lalu mengecupnya.

“Saranghae Mr. Barista.” ucapnya sembari menatapku.

“Ne, saranghae Ponytail.”

“Oppa, jangan Ponytail. Panggil aku Ms. Barista saja.”

“Arra, saranghae Ms. Barista.”

“Nado oppa, nado saranghae.”

—END—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s