VOODOO DOLL

Title: VOODOO DOLL

Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Genre: mystery, romance, hurt
Length: Oneshoot
Rating: PG-15


Note:
Gaje, itulah FF-FF author 3 /maapinakuya/
Mudah-mudahan rame, dan kalian ngerti. Amin.
Jangan terlalu serius dan terbawa alur. Author sayang banget ma Ravi sayangku cintaku manisku itu /lebay/. Ini kan hanya untuk hiburan semata. Damai.
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^

voodoo doll

.

.

.

Open the doors of hell.

*Author POV*

-flashback-
“Iya, bantulah aku. Aku ini benar-benar membutuhkan pertolonganmu..” ratap seorang yeoja dengan nada memelas.

“Kau yakin?” tanya wanita paruh baya yang memakai riasan dan busana bernuansa hitam.

“Tentu saja. Itu kenapa aku sampai berani menemuimu.”

“Baiklah. Itu keputusanmu. Setiap keinginan pasti ada harga yang harus dibayar.” Lalu wanita paruh baya itu memberikan sesuatu kepada yeoja itu, boneka. Boneka putih bermata hitam polos. Badannya penuh jahitan, dan di dada sebelah kirinya terdapat bentuk hati.

“Keluarlah. Sekarang keinginanmu sudah terpenuhi. Jika ada sesuatu itu urusan belakangan.” sehabis wanita paruh baya itu menyelesaikan kalimatnya, yeoja itupun keluar dengan senyum penuh kemenangan. Dia keluar sambil menggengam erat boneka itu.

*Author POV end*
*Yoonhee POV*

Aku segera keluar dari tempat itu. Di tanganku sudah ada “oleh-oleh” pemberian nenek tadi.

“Lihatlah apa yang bisa kulakukan padamu.” gumamku. Kususuri jalanan malam disudut kota, otakku memerintahkan agar kakiku berdiri tepat disebuah gedung tinggi. Aku memasuki gedung itu dan berhenti didepan kamar, tempat dimana “korbanku” tinggal.

Tak salah kan mencoba barang baru, Ravi oppa?

“Arghhh!!” terdengar jeritan dari dalam. Ternyata ada reaksi juga setelah aku menusuk salah satu kaki boneka itu dengan peniti yang ada didalam tasku.

“Yak! Ravi, gwaenchanha??” suara-suara gaduh itu semakin terdengar. Tapi itu semua tidak menghentikanku. Aku mulai menusuk kaki, tangan, perut, kepala, dan yup.. tanganku berhenti tepat diatas bentuk hati boneka itu. Kurasa itu adalah jantung.

“Belum saatnya, Yoonhee.. Aku masih ingin bermain-main denganmu, Ravi ku tercinta..” aku berbalik dan meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya, sesuai perhitunganku, aku duduk didepan TV. Kunyalakan benda elektronik itu, dan…

“Real V, V-I..” belum selesai mereka memberi salam, Ravi sudah tersungkur memegang perut indahnya itu. Apa? Kalian mau tanya aku kenapa Ravi? Mana aku tahu. Aku hanya menusuk perut bonekaku dengan peniti, itu saja kok.

Dari layar TV, aku dapat melihat betapa sakit dan menderitanya dia. Tusukan itupun belum kulepaskan. Perlahan air mata Ravi mulai mengalir.

“Bagus.. teruslah Ravi.. teruslah menangis.” Ravi memeluk perutnya semakin erat, dan semakin erat lagi. Member VIXX dan orang-orang yang ada disekitarnya pun panik. Pastilah para penonton, terutama fansnya juga ikut panik.
Aku melepaskan tusukannya. Ravi mencoba berdiri menahan sakit. Disekanya air mata itu dan mencoba untuk kembali tersenyum.

“Masih mencoba kuat demi profesionalitas? Berdiri saja kau susah, kasihan Ravi sayang..” senyuman kecil keluar dari ujung bibirku berbarengan dengan hinaanku itu.

-Keesokan harinya-
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan dengan mainan baruku itu. Boneka “portal” milik Ravi. Menyenagkan bukan?
Hari ini Dewi Fortuna sedang ada dipihakku. Sebuah gerombolan, member boyband berserta dengan fans-fansnya. Kapan lagi saat berjalan-jalan seperti ini bisa bertemu dengan member boyband? Aku beruntung sekali, dan dia juga akan “beruntung” hari ini.

*Yonnhee POV end*
*Author POV*

Yoonhee, yeoja itu berdiri tak jauh dari rombongan itu. Matanya yang sinis menatap kearah seorang fans yang terus mencoba mendekati Ravi.

BRUK

Ravi terjatuh dengan kepala bersimbah darah. Ternyata Yoonhee menjatuhkan boneka “Ravi”nya itu ke tanah. Suara jeritan dan tangisan berkumandang. Hanya Yoonhee yang berani menatap rendah Ravi yang sekarang tak sadarkan diri.

*Author POV end*
*Ravi POV*

“Akh, dimana aku?” ujarku sembari memegang kepalaku yang sudah dibalut perban. Oh, kamar rumah sakit. Bau dan peralatan serta baju ini menjawabnya. Tepat disamping kasurku berdiri seorang yeoja.

“Ehmm..kau siapa? Suster?” bodohnya aku bertanya seperti itu. Dia tidak memakai seragam suster, apalagi tatapannya itu terlalu dingin untuk menjadi seorang suster.

“Apa kau fansku? Atau kau penyelamatku?” ujarku kembali bertanya.

“Aku, sebenarnya mantan fansmu dan juga penyelamatmu yang bisa mengantarkanmu dengan selamat ke neraka nantinya.” yeoja itu menjawab begitu tenang tapi sangat dingin. Perlu waktu yang lama agar kata-kata yang membuatku merinding itu bisa kucerna. Tak banyak bicara, yeoja itu mengangkat sebuah boneka dan sebuah peniti. Dia menatapku lalu menusuk tangan boneka itu dengan peniti.

“Arghh!!” rintihku. Yeoja itu itu hanya tersenyum seakan senang melihatku tersiksa.

“Igo mwo-ya?!” jeritku.

“ Ini namanya voodoo doll. Kau sudah menyanyikan dan menarikan lagu ini. Bahkan MVnya pun ada. Bisa-bisanya kau masih bertanya, oppa. Oh, iya. Berkat MV itu aku terinspirasi dan melakukannya didunia nyata. Bagusnya boneka ini tidak sulit dicari. Setelah kucoba, menyenangkan ternyata. Terimakasih, ya” ucapnya seakan merasa tak bersalah.

“Jadi selama ini aku sering sakit-sakitan karena kau?!” aku naik pitam. Dia mengelus wajahku lembut dan langsung berubah seketika. Tanganya yang dingin mencengkram daguku kuat.

“Ya iyalah. Masih bagus aku hanya menyiksamu belum membunuhmu. Dengan boneka ini kau bisa mati kapan saja ditanganku. Harusnya kau berterima kasih padaku, tampan..” dia juga ikut naik pitam.

“Tapi kenapa?” tanyaku lirih. Mencoba agar hatinya menjadi sedikit lunak. Cengkramannya itu mulai kendor. Bibirnya bergetar.

“Kenapa? Kau bilang kenapa?” bulir-bulir air matanya perlahan turun. Aku hanya diam, takut perkataanku nantinya menyinggung.

“Ini semua karena kau! RAVI OPPA! Tidakkah kau mengingatku walau sedikit saja?” Dia menjerit lalu menangis. Aku menatapnya mencoba mengikuti kemauannya.

“Aku megingatmu..” aku angkat bicara. Dia menatapku penuh harap.

“..kau adalah seorang fansku yang datang ke backstage untuk minta tanda tangan, kan? Kau si yeoja pemilik mata bulat yang bersinar itu. Aku ingat.”

“Lalu?”

“Lalu..”

“Kau menabrakku! Menjatuhkanku! Bahkan kau tidak memandangku! Kau TEGA!” Kini dia menangis sembari mengigit-gigit bibir bawahnya.

“Maafkan aku. Aku ti..”

“Kau tak tahu betapa sakitnya hatiku! Aku fansmu, tetapi kau menghempaskanku! Kenapa kau tidak menghargaiku?!” dia seakan-akan menjadi histeris. Menangis sembari berteriak-teriak.

“Iya, tentang menabrakmu dan membuatmu terjatuh, itu salahku. Maafkan aku. Tapi..”

“Menyesal, eoh?” selanya dengan nada menghina.

“Aku tidak tahu apa yang membuatmu sampai-sampai berlaku nekat dengan mengganguku saat di backstage padahal acara belum selesai dan bodyguard ada dimana-mana. Masalah aku menabrakmu, itu karena saat itu aku masih harus segera menyanyikan lagu terakhir. Aku berlari sampai-sampai tidak melihatmu, lalu aku menabrakmu.”

“Aku hanya ingin tanda tanganmu. Itu saja.”

“Aku benar-benar sibuk saat itu. Lagipula itu salahmu. Kau datang diwaktu yang tidak tepat.”

“Kau menceramahiku?” tanyanya sinis. Bodoh, sejak kapan aku tiba-tiba berani melawan? Tapi sudah terlambat. Kata-kata itu terlanjur keluar. Demi kebaikanku dan judga dirinya. Aku tidak menjawab. Hanya saja aku mencoba mengganti topic dan mencari titik terang.

“Kau tidak tahukan saat kau terjatuh dan aku berlari kepanggung? Saat aku selesai pentas aku kembali dan mencarimu untuk minta maaf. Tapi kau sudah tidak ada disitu.”

“Kau jahat! Pasti kau sedang bohong!” Pengakuanku tadi membuat dia kembali menangis tidak percaya.

“Kau lebih baik mati, oppa. Aku terlalu cemburu melihat kau disukai oleh yeoja lain.”

“Yak, ini profesiku. Resikonya adalah disukai banyak orang. Dan resikomu menyukaiku adalah harus mengakui bahwa bukan kau saja yang menyukaiku.”

“Itu kenapa aku marah. Melihat fans yang lain lebih beruntung daripadaku.”

“Yak! Kenapa kau begitu egois dan seenaknya sendiri? Kaulah orang yang jahat itu.” Ya Tuhan, aku kembali bertindak bodoh dengan mengucapkan kata-kata “pujian” itu. aku hanya bisa pasrah melihat dia menusuk-nusuk boneka yang akan berdampak padaku juga. Boneka sialan.

Dan itu benar. Diangkatnya boneka itu beserta penitinya. Dia memulai menusuk kaki boneka itu lagi.

“Arghh!! Kau..” aku mencoba kuat meskipun itu sakit, sangat.

“Mwo? Kau apa? Kau mau bilang kalau aku jahat. Iya, memang benar aku jahat. Puas?!” dia memindahkan peniti itu dan mulai menusuk bagian perutnya.

“Arghh!!” rintihku.

“Bagus, teruslah merasa sakit. Rasakanlah apa yang kurasakan!” dia kembali memindahkan peniti itu dan ingin menusuk sesuatu yang berbentuk hati disana.

“K-kau.. Yoonhee?” ucapku lirih. Dia menurunkan boneka itu dan menatapku.

“Kau panggil apa aku tadi?”

“Yoonhee.” ucapku tegas.

“Darimana..” Belum selesai dia bicara, aku sudah mengambil dompetku dan membukanya. Aku mengambil kalung berliontinkan “YOONHEE”.

“Saat aku kembali, aku tidak mendapatimu disana. Tapi yang kudapat hanya ini. Benda ini terjatuh dilantai. Ini pasti milikmu kan?” Dia berjalan mendekat dan mengamati kalung itu, lalu merabanya.

“Jika kau bilang aku jahat, seharusnya kalung ini tidak ada bersamaku kan? Aku sempat mencarimu, untuk memberimu tanda tangan dan mengucapkan permintaan maafku. Tapi kau pergi. Dan disaat itulah aku baru sadar kalau kalungmu tertinggal. Lalu aku menyimpannya dan berjanji akan memberikannya padamu saat kita bertemu nanti. Akhirnya takdir mempertemukan kita, walaupun kin kau menunjukan sisi Hyde (gelap) mu kali ini.” Dia menatapku. Disaat dia diam setidaknya itu lebih baik daripada kelakuannya tadi.

“Aku sangat ingat matamu itu menatap kegum diriku. Terimakasih pernah menjadi fansku.” aku mengulurkan tanganku untuk berjabatan. Tapi dia menolak.

“Ani, aku jahat, oppa.”

“Tidak, kau hanya salah paham saja.” Dia menggelengkan kepalanya kuat seakan menolak.

“Bisakah aku minta 3 permintaan?” ujarnya serius. Aku tidak menjawab, tapi aku juga tidak menolak.

“Baiklah, yang pertama maafkalah aku karena sudah memantraimu dengan sihir gelap murahan ini.”
Aku menganguk, “Aku memaafkanmu. Maafkan aku juga karena pernah berbuat kasar padamu.”
Yoonhee pun mengangguk.

“Yang kedua, bisakah aku berfoto denganmu. Anggap saja sebagai ganti tanda tangan saat itu.”

“Oke, itu mudah.”

“Pakai HPmu untuk mengambil gambar.” Dia mengambil HPku yang ada diatas meja lalu mengambil beberapa gambar.
“Yang ketiga dan yang terakhir.” Yoonhee mengambil kalungnya itu dan menyimpannya ditelapak tanganku, lalu menutupnya lembut.

“Jaga ini baik-baik untukku, dan tolong… jangan pernah lupakan aku.” Dia memelukku. Hangat. Mungkin seperti inilah dia yang sebenarnya.Setelah melepaskan pelukannya itu dia mengambil beberapa langkah kebelakang.
“Aku mohon pamit. Maaf mengganggu. Aku kira ini pertemuan kita yang terakhir kalinya.”

“Wae?”

“Karena aku jahat.” dia tersenyum. Mukanya bersinar. Cantik menurutku, dan yang jelas tidak mengerikan. Dia pun menghilang di balik pintu.

*Ravi POV end*
*Author POV*

“Jadi seperti ini kejadian sebenarnya. Akulah yang jahat, bukannya Ravi.” Yoonhee berlari ketempat boneka itu berasal.

“Aku mengembalikan benda terkutuk ini.” dia memberikan boneka itu hati-hati kepada sang empunya, wanita paruh baya itu.

“Tidak bisa. Ini sudah menjadi milikmu. Lagipula tidak bisa kau mengembalikannya seenakmu saja.”

“Lalu apa maumu sekarang?” tanya Yoonhee kesal.

“Sudah kubilang dari awal. Setiap keinginan pasti ada harga yang harus dibayar.”

“Baik! Kau mau berapa juta? Hah? Aku hanya ingin kutukan ini segera berakhir!” Wanita paruh baya itu hanya menggeleng. Dikeluarkannyalah sebuah belati kecil dengan mantra-mantra tertulis digagangnya.

“Harganya sama dengan kegunaan boneka ini. Mencabut nyawa orang. Mau tak mau kau harus mengakhirinya. Ini keinginanmu dari awal. Tikam jantung boneka itu. ” wanita paruh baya itu tersenyum puas.

“Kya! Beraninya kau!” wajah Yoonhee merah padam.

“Tak ada cara lain. Ini keinginanmu.”

“Ambil aku sebagai gantinya.” ekspresi wajah Yoonhee berubah seketika.

“Gampang.” Wanita paruh baya itu menutup matanya. Bibirnya mulai komat-kamit. Sampai akhirnya wanita itu menatap Yoonhee. Dia menunggu.

HAP

Satu hentakan. Yoonhee langsung menikam perutnya sendiri dengan belati itu. Air matanya yang menggenang itu perlahan turun.

“R-ravi oppa… sa..ranghae.”

Bagaikan nasi yang sudah menjadi bubur, Yoonhee hanya bisa menyesal atas semua perbuatan tidak bergunannya ini hanya untuk balas dendam. Sedih rasanya merasakan bagaimana dirinya membuka pintu neraka dihatinya. Padahal semua ini hanya salah paham belaka.
-flasback end-

Sudah hampir 2 tahun kejadian konyol mengerikan itu berlalu.
Ravi menghembuskan nafas beratnya lantaran lelah sehabis melakukan acara fans sign. Dia melihat HPnya. Wallpaper dirinya dengan seorang yeoja yang membuatnya “sedikit” menderita itu membuatnya tersenyum.

“Yak, neo. Yoonhee si yeoja gampang tersinggung. Dimana kau? Aku merindukanmu. Maukah takdir mempertemukan kita lagi?” Ravi hanya bisa berangan-anagan tanpa mengetahui kalau penggemar posesifnya itu sudah ada dialam lain.

-END-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s