When Love Change

Title: When Love Change

Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Park Jinyoung aka Jr. (GOT7)

Other cast:
o Shin Minsoo
o Wang Jackson (GOT7)

Genre: romance, hurt
Length: Oneshoot
Rating: PG-15

Mungkin aneh dan ga nyambung. Ini karena author udah pake mata 5 watt buat ngetiknya.
Jangan kecewa. Kadang sesuatu yang biasa membuat author yang satu ini bosan. /apasihauthortehgeje/
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^

When love change

.

.

.

Jangan permainkan persaanku.

Tap tap tap

Suara langkah kaki cepat menggema di salah satu koridor rumah sakit
Seorang yeoja dengan rambut dikucir satu yang sudah berantakan itulah penyebabnya.

dr. Yoonhee, Jung
Spesialis Bedah

Tulisan itu tertera pada saku kiri jas dokter miliknya.

“Aishh… aku terlambat.” tak henti-hentinya omelan itu terus keluar dari mulutnya. Dengan berani dia mendelik kearah arlojinya.

“Shiiit.. aku benar be…”

BRUK

Omelannya harus terhenti lantaran dia menabrak seseorang. Tabrakan yang cukup keras itu membuat dia membulatkan matanya, sedangkan orang yang ditabraknya dengan santai mendekap Yoonhee agar tidak jatuh.

“Ini bukan lapangan untuk berlari dr. Jung.” suara itu membuat Yoonhee menggigit bibir bawahnya karena takut.
Perlahan Yoonhee melirik arah name tag orang itu

dr. Jinyoung, Park
Ketua Spesialis Bedah

“Omo! Orang ini dr. Park. Ya ampun bunuh saja aku sekarang.” sesalnya dalam hati.

“Yak, Yoonhee! Tidak menjawab?”

“Hehe, arraseo dr.Park. Tapi aku hanya ingin melakukan pembedahan bagi pasienku.”

Jinyoung hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menarik Yoonhee ke sebuah kafe dekat rumah sakit.

“dr.Park lepas! Aku ingin melakukan operasi bukannya minum kopi.” ucap Yoonhe yang tidak menerima perlakuan ini.

Puk

“Aww.. appo!” Yoonhee meringis lantaran Jinyoung baru saja menjitak kepalanya.

“Pabbo-ya. Yoonhee jinjja pabbo. Kau benar-benar terlambat tahu. Aku yang menggantikanmu saat pembedahan tadi. Kalau pasien itu menggumu, bisa-bisa dia mati walaupun itu hanya pembedahan ambeien saja. Kebiasaanmu dari 8 tahun lalu belum hilang juga, ya. Dasar Yoonhee pabbo yang suka terlambat.” ceramahan panjang dari Jinyoung sukses membuat bibir Yoonhee mempout hebat/?

“Mau marah, eoh? Harusnya akulah yang marah Yoonhee.” ejek Jinyoung.

“Oke oke, aku yang salah. Maafkan aku dr.Park.” ucap Yoonhee malas.
Jinyoung bangkit dari tempat duduknya dan mengarahkan wajahnya untuk menghampiri wajah Yoonhee. Alhasil wajah Yoonhee menjadi merah karena merona.

“Sekali lagi kau sebut aku dr.Park aku akan menjitakmu lagi.” Jinyoung menyipitkan matanya, lalu kembali duduk.

“Wae? Itu kan memangnya namamu.”

“Sudah pabbo, sering terlambat, pikun lagi. Yoonhee sayang.. kitakan sudah berjanji, diluar rumah sakit aku memanggilmu Yoonhee dan aku memanggilku Jinyoung oppa.. Sudah lupa?” tak henti-hentinya Jinyoung mengejek Yoonhee.

“Ne ne.. arraseo!” jawab Yoonhee jengkel.

Barulah Jinyoung tersenyum penuh kemenangan disaat dia merasa kalau Yoonhee sudah mulai kewalahan dan kehabisan kata-kata.

“Ayo pulang. Aku antar.” Jinyoung menarik Yoonhee keluar dari kafe dan segera menaiki mobilnya.
Jinyoung dan Yoonhee tidak memiliki hubungan apapun. Hanya sebatas sahabat yang sudah berteman lama. 8 tahun? Iya, itu saat Yoonhee kelas 3 SMA dan Jinyoung kuliah tinggkat 2. Pameran kampus, adalah tempat dimana mereka bertemu.
Mobil itu pun akhirnya berhenti di tempat tujuan.

“Besok ada acara?”

“Ani, memangnya kenapa oppa?”

“Aku akan mengajakmu pergi kesuatu tempat. Akan aku jemput pukul 8 pagi. Annyeong.”

Mobil itu melaju pergi dan Yoonhee tersenyum kecil karena kata-kata Jinyoung tadi.

*Author POV end*
*Yoonhee POV*

Mobil Jinyoung melaju pergi. Astaga, besok Jinyoung oppa mengajakku pergi. Apa ini saatnya? Woow! Aku hanya terlalu bahagia sekarang.

-Keesokkan harinya-

Aku sudah berdiri didepan rumahku. Dengan kaos putih dan celana yang tidak terlalu pendek aku menunggu Jinyoung menepati janjinya.
Tepat pukul 8 mobil yang sudah tidak asing itu berhenti mulus didepanku dan akupun langsung membuka pintu itu dan masuk. Didalam aku melihat Jinyoung dengan rambutnya jambulnya berbusana santai dengan baju senada dengan bajuku. Semuanya tambah sempurna dengan tambahan kacamata hitam yang dia kenakan.

“Mau kemana kita, oppa?” tanyaku mengawali percakapan hari ini.

“Pasti kau suka.”

Sepanjang perjalanan kami hanya bersenda gurau dan bersenandung ria. Tawa kami pun tak pernah pudar, begitu juga matahari yang serasa ikut berseri dengan kami. Liburan ternyata sangat dibutuhkan bagi kami, orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan.

Sampai akhirnya mobil itu berhenti ke tempat yang Jinyoung maksud.

“Wooww..” decakku kagum.

Pantai pasir putih dengan ombak tenang membuatku tidak berhenti memuji tempat ini.

“Duduklah.” Jinyoung menarik tanganku dan menyuruhku untuk duduk di atas pasir yang sangat lembut.

Jinyoung sedang merogoh saku celananya, dan kotak beludru persegi panjang berwarna hilam itu keluar dari dalam sana. Perlahan dia membukanya. Dua pasang cincin simple dengan berlian yang bertaburan mengelilinya membuatku semakin berdecak kagum.

“Yoonhee-ya..” sorotan mata Jinyoung mendadak serius.
Aku tak bisa berkata apa-apa, jantungku berdegup kencang dan mataku berbinar mengalahkan kilauan cincin berlian itu.

“….maukah….kau menjadi..?”

“Menjadi..?” tanyaku penasaran. Aku memandang Jinyoung, menunggunya melanjutkan pertanyaan menggantung itu.

Dia tersenyum dan menyodorkan sebuah kartu undangan.

Park Jinyoung
&
Shin Misoo
5 Agustus 2015

“Pernikahanku, 2 minggu lagi, dan aku memerlukan gadis pembawa cincin. Kau mau kan membantuku?”

Perasaanku pupus seketika. Bahkan rasanya jantung ini malas untuk berdetak lagi.

Sesak.

“Yoonhee? Kau tidak mau?” lanjutnya.

“Ani, aku mau sekali. Tapi siapa itu Misoo?”

“Dia yeoja cantik dari salah satu keluarga terpandang di Korea Selatan.”

“Wahh.. daebak. Kau beruntung sekali bisa mendapatkan yeoja seperti itu.”

Miris mendengar kenyataan siapa itu Misoo. Sangat berbalikan dengan keadaanku yang tidak begitu cantik dan hidup sederhana.

“Aku mau pulang, kjja.” Jinyoung menarik tanganku untuk berdiri dan kembali pulang.

Selama perjalanan pulang kita hanya diam tanpa bertatapan sedikit pun. Aku terlalu benci untuk melihat wajahnya sekarang. Kuhadapkan wajahku kearah jendela yang perlahan membiarkanku menyaksikan hujan deras yang tiba-tiba muncul di hari yang cerah ini. Mungkin seperti ini keadaanku sekarang. Hatiku yang hari ini sudah kupersiapkan agar selalu cerah tiba-tiba harus mendung dan air itu mengalir dari mataku seperti hujan. Kugigit jariku untuk menahan isakkan itu terdengar oleh Jinyoung oppa. Misoo, nama itu mengubah hidupku mulai hari ini hingga aku mati nanti.

*Yoonhee POV end*
*Jinyoung POV*

“Aku mau pulang, kjja.” Aku menarik tangannya dan masuk ke mobil, lalu berjalan pulang.

Selama perjalanan kami tidak bertatapan sedikit pun. Semasuknya Yoonhe kedalam mobil dia langsung memalingkan wajahnya kearah jendela dan menyenderkan kepalanya ke kaca. Aku yang terlalu payah tidak berani memecah kecanggungan ini. Melihat wajahnya yang pucat pasi saat aku meyodorkan surat undangan pernikahanku ditambah caranya menggigit jari untuk menyembunyikan tangisannya itu. Yoonhee, sebegitu tersakitinyakah engkau? Bahkan isakkanmu terdengar sangat jelas walau kau sudah berusaha menutupinya. Misoo, kalau bukan karena dia, karena pertunangan terpaksa ini, pastilah kau tidak akan sesakit ini, Yoonhee.

Aku berusaha berkonsentrasi, genangan air mata ini sedikit membuat pandanganku buram. Ternyata ini rasanya menjadi Yoonhee. Sakit hati. 8 tahun aku menyukaimu, Yoonhee dan selama 8 tahun itu juga aku menyembunyikan perasaanku itu. perlahan aku mengenang saat pertama kali kita bertemu, matamu membuatku jatuh cinta. Bahkan tahun-tahun selanjutnya melihatmu masuk ke kampus yang sama denganku, mengetahui seberapa pandainya dirimu, mengejekmu, menjahilimu. Aku akan mengenang ini semua. Mulai dari hari ini, semua peristiwa ini akan mengubah hidup kita sampai, bahkan kita mati nanti. Kita tidak akan bisa bersama, sedekat yang dulu lagi.

Mian. Jeongmal mianhae.. maafkanlah aku..Jinyoung, namja pengecut ini.

Aku mengelap wajahku yang basah karena air mataku. Mengetahui bahwa mobilku sudah sampai ke tempat tujuan. Aku menatap punggung Yoonhee yang nafasnya tersenggal-senggal. Suara isakkan itu pun masih terdengar. Aku berusaha mengelus punggungnya. Tapi..

KLEK

“Terimakasih untuk hari ini.” dia membuka pintu itu, mengucapkan pamit, membungkuk, lalu berjalan gontai kearah rumahnya.

Dia berusaha kuat, tapi mata tidak bisa berbohong. Jeongmal, mianhae…

*Jinyoung POV end*
*Yoonhee POV*

KLEK

“Terimakasih untuk hari ini.” aku turun lalu berpamitan dengan membungkuk. Jinyoung oppa membalasnya dengan sebuah senyuman, senyuman yang membuatku tambah ingin menangis.

Tak lama mobilnya kembali bergerak. Kakiku terlalu lemas menopang tubuhku sendiri. Siksaan batin ini, sangat menyakitkan… Tak dapat kubendung lagi. Ya, Tuhan bisakah sampaikan ini padanya. Seberapa aku mencintainya, menanti selama 8 tahun dan berharap agar dia memiliki rasa yang sama terhadapku. Bedapa naif dan bodohnya aku. Wanita macam apa aku ini yang terlalu percaya diri pada rasa cintamu ini terhadap Jinyoung oppa? Tapi ini cinta. Jinyoung oppa bisakah bukan Misoo yang menerima cincin itu? Mengenakan gaun pernikahan itu? Berjalan bahagia di pelaminan dan menikah denganmu? Bisakah semua keberuntungan Misoo itu menjadi milikku? Tapi harapanku, semua keinginan posesif dariku itu hanya menjadi rontaan perih dalam hati.

*Yoonhee POV end*
*Author POV*

Jinyoung mengarahkan spion utamanya itu tepat kearah Yoonhee yang tengah menangis sembari terduduk dijalan. Air matanya juga turun, sama derasnya dengan Yoonhee. Keduanya mengutuki diri mereka masing-masing. Berfikir bahwa mereka adalah orang yang boleh mencintai saja tanpa harus memiliki. Berhari-hari mereka menangis. Bahkan saat diam pun sepotong ingatan perih itu bisa membuat mereka kembali menangis.
2 minggu berlalu.

Yoonhee mengenakan gaun putih selutut. Senyumannya terlihat sangat manis, walaupun sebenarnya rasanya sangat kecut. Dia berdiri dengan tegap sembari membawa sepasang cincin suci beralaskan bantal berwana putih. Dia menatap kedepan, kearah mempelai pria yang sedang menunggu calon istrinya tiba di pelaminan. Misoo, benar apa yang Jinyoung katakan, dia sangat cantik. Sesampainya Misoo mereka saling mengucap janji yang didampingi oleh seorang pendeta, dan tibalah acara pemasangan cincin. Yoonhee berjalan mendekat untuk menyerahkan cincin. Sorotan matanya seakan seperti menolak melihat Jinyoung menyematkan cincin itu ke jari manis Misoo. Jinyoung melihat betapa bergetarnya tangan Yoonhee, tangan yang seharusnya salah satu jemarinya memakai cincin yang dia bawa ini. Tapi Jinyoung sudah membuat janji didalam hatinya. Hari ini, tepat 5 Agustus 2015 dia akan menikahi Misoo, gadis yang sudah dipilih dan terpaksa dia nikahi. Walaupun dia membayangkan Misoo adalah Yoonhee, dia sudah bertekad. Hari ini dia harus tampil professional.
Setelah cincin itu disematkan mereka saling berciuman. Yoonhee reflex menutup matanya, tidak bisa menerima apa yang dia lihat ini.

Setelah acara suci itu selesai, tibalah pestanya. Yoonhee terlalu malas untuk ikut kedalam kebahagian orang lain yang membuatnya ingin menagis kembali. Tapi Yoonhee sudah berjanji untuk tidak menangis karena pria bernama Jinyoung lagi. Pikiran Yoonhee perlahan menjadi tenang setelah dia melihat ombak di pantai yang sama tenangnya dengan jiwanya sekarang. Pantai dimana Jinyoung mengajak Yoonhee untuk “mengaku” itu, telah disulam menjadi Beach Party Jinyoung dan Misoo.

“Satu.. dua.. tiga.. senyum!” tiba-tiba suara itu mengejutkan Yoonhee. Entah sejak kapan Jinyoung merangkul pinggangnya dan meminta sang photographer mengambil gambar mereka.

“Kau jelek. Sekali lagi ya, kali ini Yoonhee, kau harus senyum.” ejekan Jinyoung itu membuat Yoonhee tersenyum miring.

Foto kedua diambil. Jinyoung tersenyum dengan bahagianya, dan Yoonhee tak kalah “bahagianya”.

.

.

Tiga tahun berlalu. Sekarang, menjadi seorang duda membuatnya sedikit senang. Pernikahan mereka tidak berjalan baik. Lantaran ini adalah pernikahan yang dipaksakan, pernikahan tanpa cinta, mereka pun sepakat berpisah 1 tahun lalu.

BRUK

Jinyoung menabrak seseorang. Yeoja yang kelakuannya dia kenal. Dia mendekap yeoja itu.

“Kau ini sama saja.. masih anggap rumah sakit sebagai lapangan berlari?”

“Mi-mian dr.Park. Saya tidak melihat anda.”
Jinyoung menatap lembut Yoonhee dan tanpa sadar tersenyum.
Tanpa basa-basi Jinyoung menarik Yoonhee ke kafe dekat rumah sakit, lagi.

“dr.Park lepas. Saya ingin bekerja bukannya minum kopi.” ucap Yoonhe yang menolak diperlakukan seperti itu.
Jinyoung tersenyum dan menggenggam tangan Yoonhee.

“Aku jadi ingat. 3 tahun lalu kita tabrakan di tempat yang sama seperti tempat kita tabrakan tadi, dan sekarang kata-katamu sama saat waktu itu aku tarik juga kesini. Kau masih membuatku jatuh cinta padamu, Yoonhee.” ujar Jinyoung dengan mata berbinar.

“Mwo? Apa yang kau maksudkan itu?” tanya Yoonhee bingung.

“Menikahlah denganku. Akhirnya 11 tahun penantian, hari ini aku berani untuk mengaku.” Jinyoung mengucapkan permintaan tulusnya itu.

“Mwo-ya?! Aku tidak mengerti.”

“Kau tahu kan kalau aku sudah cerai?” ucap Jinyoung pelan.

“Iya, lalu kenapa?” ketus Yoonhee.

“Itu kenapa aku ingin agar kau..”
Jinyoung mendadak kaku. Mukanya pucat pasi. Sesuatu yang berbeda, Jinyoung rasakan. Genggaman tangannya mulai dia kendorkan. Genggaman yang semula erat menjadi merosot hingga ke ujung-ujung jemari Yoonhee. Jinyoung menatap jemari Yoonhee. Salah satu jari yang sudah disegel dengan sebuah cincin bermatakan berlian.

“K-kau.. sudah..”

“Yup, menikah. 2 tahun yang lalu.” kata Yoonhee enteng.

“Ta-tapi..”

“Kau bukan namja satu-satunya di dunia ini dr.Park.” ejek Yoonhee.

Keduanya diam. Jinyoung yang diam karena terkejut sedangkan Yoonhee diam karena Jinyoung, lawan bicaranya juga diam.

“Yoonhee-ya.. apa urusan pekerjaanmu masih lama? Jangoanmu ini sebentar lagi bangun karena lapar minta susu.” tiba-tiba seorang namja datang. Badannya kekar berisi. Terlihat kuat dimata Jinyoung, tetapi sangat lembut ketika menggendong bayi yang Jinyoung simpulkan sebagai buah cinta Yoonhee dengan namja itu.

“Tunggulah sebentar, Jaebumku.” Yoonhee mengusap kening bayi bernama Jaebum itu di pelukan namja yang bisa dibilang suaminya.

“Aku Jackson, suami Yoonhee. Dan kau?” tangan Jackson menanti agar dibalas.

“dr.Park. Park Jinyoung. Panggil Jinyoung saja.”

“Ohh.. tak keberatankan bila aku membawa istriku pulang, Jinyoung?” tanya Jackson sembari mengusap rambut Yoonhee.

“Akh, oppa tunggu dimobil, ya. Aku masih ada urusan. Sedikit lagi selesai.” pinta Yoonhee manja.

“Baiklah.”

Wajah Jinyoung merah padam. Entah karena malu atau karena marah setelah melihat Jackson mengecup bibir Yoonhee sekilas. Dia tidak bisa menerima apa yang dia saksikan itu.

Setelah Jackson keluar dari kafe itu, Yoonhee melanjutkan masalahnya dengan Jinyoung yang sempat terhenti tadi.

“Sudah lihat? Apa masih perlu dijawab pertanyaan sampahmu? Masih mau menikahi aku? Kalau iya, aku akan menamparmu lalu menyebut dan mengecapmu sebagai namja murahan perusak rumah tangga orang lain. Arra?” suara Yoonhee sangat tenang seakan benar-benar tulus keluar dari hati.

“Satu lagi. Terimakasih atas 8 tahun lalu yang begitu indah sampai-sampai membuatku tergila-gila padamu. Karena satu hari itu aku sakit hati dan membencimu. Dari situ aku berharap agar 8 tahun nanti yang akan mendatang kau tidak akan pernah datang dan muncul lagi didepanku dan juga keluargaku.”
Yoonhee meninggalkan Jinyoung yang masih diam kaku.

“Tunggu, Jackson adalah pelampiasanmu kan?”

PLAK

Wajah Yoonhee mendadak merah padam karena perkataan tak senonoh Jinyoung tadi.

“Kau boleh mengetahui ini, dr.Park. Awalnya, saat belum lama kau menikah, aku memilih menikah dengan Jackson, anak dari teman eommaku, hanya sebagai alat pelampiasan. Tapi sekarang aku lebih mencintai namja yang bisa mencintaiku, ada di sampingku, tidak pengecut, tidak membiarkanku menunggu, dan tidak meningalkanku untuk menikahi orang yang kau ceraikan juga ujung-ujungnya. Daripada aku harus menunggu lagi dan berharap padamu..” perkataan tajam Yoonhee masih membuat Jinyoung diam.

Yoonhee tersenyum sinis kearah Jinyoung dan mengetahui kalau Jinyoung sudah tidak kuat lagi dikata-katai oleh Yoonhee.

Semua perkataan yang Yoonhee sampaikan begitu dalam dan berarti. Santai dan tenang dibawakan olehnya, tetapi begitu keras dan menggelegar didalam hati Jinyoung. Peringatan keras itu membuatnya tidak tahu harus berkata apa sekarang.

“Hidupmu terlalu drama dr.Park.” ujar Yoonhee dengan nada merendahkan.

Jinyoung yang sudah gemetar menahan malu akhirnya angkat bicara.

“Apa ini balas dendam?” tanya Jinyoung pasrah.

“Bisa dibilang begitu. Apa yang ku alami akan kau alami. Apa yang kau lakukan padaku akan ku lakukan padamu. Kisahmu dan kisahku akan menjadi serupa. Tapi perlu kau garis bawahi, kisah kita ada perbedaannya. Aku mencintai Jackson dan tidak akan menceraikannya. Bukan sepertimu yang ingin dianggap sebagai anak penurut yang berbakti kepada orang tuanya demi menikah dengan yeoja yang sama sekali kau tidak sukai.”

“Sebegitu bencinya kau pada diriku, Yoonhee?” Jinyoung menatap Yoonhee nanar.

“Seperti yang bisa kau lihat, dr.Park. Sebesar cintaku dulu yang sekarang berubah menjadi benci. Itu sama besarnya. Bahkan kurasa lebih besar beciku padamu.”

“Baiklah.”

“Sampai disini saja dr.Park? Kuanggap kau kalah telak. Selamat ya…” Yoonhee mengulurkan tanggannya dan langsung menariknya cepat.

“Aku lupa. Aku kan sudah najis denganmu. Kuharap kau mendengar dan melakukan ancaman kecil dariku itu ya. dr.Park, mantan namja yang pernah kugila-gilai.” Diakhir kalimatnya, Yoonhee tersenyum lebar kearah Jinyoung.
Yoonhee pun melangkah berbalik dan menghampiri Jackson yang sudah menunggu cukup lama di mobil.
Mulai hari itu Jinyoung keluar dari rumah sakit itu dan pindah ke sebuah desa kecil, dan menjadi seorang dokter sukarela. Seperti ada pagar kawat berduri jika Jinyoung berada didekat Yoonhee. Peringatan yang Yoonhee katakan membuat Jinyoung merutuki dirinya. Dari cinta berubah menjadi benci. Itulah yang ada dibenak Jinyoung ketika mengingat-ingat nama Yoonhee lagi dihidupnya.

–END–

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s