Christmas Wish

Christmas Wish

Author : Park Eun Hye

Cast :
Min Yoon Gi a.k.a Suga (BTS)
Park Rae Neul (OC)

Genre : Romance-comedy
Rating : PG
Length : Oneshoot

Annyeong readers~ ini FF yang late post sebenernya, tapi tak apa lah.. Sebenernya FF ini udah berkali-kali ngalamin refisi, tapi akhirnya jadi begini. Sekian dulu cuap-cuap author. Comment please?

christmas wish

~Happy Reading~

————————————————————————————————————————–

Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan ini sudah 1 jam aku menunggu seseorang yang tak kunjung menampakan batang hidungnya padaku. Mungkin makhluk itu masih tertidur pulas.

“Yak! Yoongi! Ireonaaaa!! Sudah 1 jam sejak aku membangunkanmu tapi kau tak juga keluar! Apak kau masih bersembunyi di alam mimpi eoh? Bangunlah! Ayo bangun Yoongi-ssi!!”

Aku berusaha membangunkannya lagi dari balik papan besar yang menjadi akses masuk dan keluar kamar itu. Benar, pintu. Sungguh mengherankan memang, tidak biasanya Yoongi sulit dibangunkan seperti ini. Biasanya dia akan langsung keluar dan menjitak kepalaku kemudian. Tapi ini…. aneh.

Yoongi. Dia adalah namjachinguku. Namjachingu dari Park Rae Neul. Sebenarnya, kami sudah berteman sejak kecil, maka dari itu aku kenal betul dengan sifat Yoongi. Dia tidak pernah terlambat.

Hari ini adalah hari ke-2 liburan kami. Kami menyewa sebuah villa untuk menghabiskan natal kami bersama. Mengingat jadwal kegiatan Yoongi sangat padat, liburan kali ini harus benar-benar di manfaatkan dengan baik.

Sampai saat ini, Yoongi belum juga keluar dari kamarnya. Apa yang sebenarnya dia lakukan di dalam sana?

“Yak! Yoongi-a! Bangun!! Cepatlah keluar dari kamarmu sebelum kudobrak pintu ini! Tumben sekali kau mengunci pintu! Tidak biasanya kau seperti ini! Bangunlah Chagi!!”

Tiba-tiba saja..

—kreekk—

“Yak! Haruskah kau berteriak seperti itu? Aku ini tidak tuli nona Park, lagi pula aku sudah bangun sebelum kau membangunkanku.” Ucap Yoongi.

“Yak! Mengapa kau menampakkan diri dengan keadaan seperti ini, eoh?!”

“Wae? Aku ini habis mandi, chagiya. Tidak bisakah kau melihatnya dengan jelas bahwa aku baru saja selesai mandi?”

“Bu-bukan begitu, hanya saja.. kau ini keluar hanya dengan sebalut handuk yang melingkar di pinggangmu.. se-seharusnya kau berpakaian terlebih dahulu.”

“Hm? Tapi alangkah baiknya jika aku memberhentikan teriakanmu itu lebih dahulu. Justru kau akan membuat banyak orang terganggu. Arra?”

Aku hanya mengangguk mengerti. Tidak ada gunanya jika aku membalasnya, yang ada aku akan terus dipojokannya. Menyebalkan.

“Baiklah jika kau mengerti.. sudah, aku akan berpakaian dulu. Kau bersiaplah, kita akan jalan-jalan berkeliling tempat ini.” Ucap Yoongi sambil kembali masuk ke kamarnya.

“Yoongi-a!” Seruku.

“Ada apa lagi?”

“Mianhae aku mengganggumu tadi dengan berteriak-teriak. Aku tidak tahu jika kau sedang mandi.”

“Hm. Sudahlah, tidak apa..” Ucap Yoongi sambil mengelus pucuk kepalaku yang tertunduk ini.

“Sudahlah, cepat bersiap agar kita dapat menghemat waktu. Aku akan segera mengganti pakaianku.”

“Yoongi-a.”

“Haish.. apa lagi, Rae-a?”

“Apa kau mendengar teriakanku tadi saat kau mandi?”

“Ya. Aku mendengarnya. Kau tahu? Bahkan air yang berada dalam bath-tube pun sampai bergoyang seolah ada gempa bumi.”

“Tapi mengapa kau tidak menjawab sama sekali? Ku pikir kau tidak mendengarnya.”

“Itu karena aku yakin kau tidak akan mendengarnya.”

“A~ Geureaseo?”

“Hm. Sudahlah. Aku ingin berpakaian sekarang.”

“Cepatlah, udaranya sangat dingin.”

“Aku tahu itu nona Park.”

Aku terkikik geli melihat ekspresi wajahnya yang kesal setelah kujahili. Begitu lucu. Aku jadi gemas dibuatnya. Untung saja dia namjachinguku, dan bukannya balita berusia 3 tahun. Jika begitu, aku pasti sudah mencubit pipinya gemas. Hah.. rasanya sudah lama sekali aku tidak menjahilinya seperti ini.

Kini kami sudah selesai berkemas. Bukannya untuk pulang, tapi untuk menikmati pemandangan dan juga mencari udara segar.

“Apa semua sudah kau bawa? Tidak ada yang tertinggal?” Tanya Yoongi padaku.

“Hm. Sudah.”

“Coba periksa lagi tasmu. Siapa tahu kau melupakan sesuatu.”

“Sudah. Tidak ada yang tertinggal, Yoongi.”

“Ponsel?”

“Ada.”

“Dompet?”

“Ada.”

“Sarung tangan?”

“Sudahlah Yoongi. Aku sudah membawa semua yang kubutuhkan. Semua aman. Bagaimana denganmu? Apa kau melupakan sesuatu?”

“Aku ini hanya peduli padamu. Ah, benar. Aku melupakan sesuatu.”

“Kau ini.. ceroboh sekali. Cepat ambilah dulu.”

“Tidak perlu.”

“Wae?”

“Karena yang kulupakan hanyalah ini.”

—Chu—

“Morning kiss~” Ucap Yoongi lagi.

Untuk sesaat aku hanya diam dan memandanginya yang tengah memunculkan seulas senyuman manis di wajahnya. Senyuman yang sudah lama aku rindukan. Tidak.Ini adalah senyuman termanis yang pernah dia berikan padaku.

“Kau bilang ini ‘morning kiss’?” Tanyaku setelah tersadar dari senyuman Yoongi yang mematikan itu.

“Kau tahu pukul berapa sekarang? Matahari sudah hampir berada diatas kepala kita, Yoongi-a. Ini sudah pukul 11. Menurutku, itu adalah ‘almost afternoon kiss’.” Ucapku lagi dengan nada kesal yang dibuat-buat.

“Baiklah..baiklah.. aku minta maaf padamu karena telah banyak melakukan kesalahan padamu. Kumohon jangan marah lagi. Kau boleh menghukumku.”

“Hm.. baiklah, aku akan menghukummu. Kau.. ahrus menggendongku sampai ke tempat tujuan.”

“Yak! Kau yang meminta untuk jalan-jalan, kenapa sekarang kau minta ku gendong?”

“Sssttt.. tuan Min, tadi kau yang mengajakku jalan-jalan bukan? Tapi aku sedang malas berjalan. Aku ingin di gendong saja dan kau harus tetap berjalan karena kau sedang ingin bukan? Oh iya, mengenai permintaanku itu, aku memintanya kemarin tapi kau tidak mau. Aku pun juga sama sekarang.” Ucapku panjang lebar.

Perlahan air muka Yoongi berubah kusut. Sepertinya dia kesal tapi biarlah, kapan lagi aku akan mengerjainya seperti ini?

“Kau ini licik, nona Park!” Ucap Yoongi setelah menaikkanku ke atas punggungnya.

“Setidaknya aku tidak membuatmu terpaksa mencintaiku. Lagi pula, ini hukumanmu dan kau harus melaksanakannya. Untuk apa ada polisi jika maaf saja cukup?”

“Oh, sekarang kau sudah mulai pandai berbicara ya? 1 tahun kau tinggal di Indonesia, beginikah hasilnya? Kau harus ku hukum.”

“M-mwo?”

Perlahan Yonngi menunjukkan sebuah seringai tipis di wajahnya. Sepertinya dia sudah menemukan hukuman untukku. Tapi aku tidak bersalah. Apa aku benar?

“Rasakan ini Rae-a!!”

Yoongi tiba-tiba saja berlari sangat cepat. Apa dia gila? Masih ada aku di atas punggungnya. Bagaimana kalau kami jatuh? Bagaimana kalau aku terpental? Dia membuatku benar-benar takut. Ku eratakan kedua tanganku yang telah melingkar pada leher Yoongi.

“Yoongi-a! Hentikan! Aku takut!!”

Hanya itu saja yang dapat ku ucapkan. Tanpa kusadari, air mata membasahi pipiku yang cukup chubby ini.

“Haha.. bagaimana? Apa kau menyerah?” Ucap Yoongi setelah memelankan kecepatannya. Kini dia sudah kembali berjalan santai seperti tadi.

“Kau ini berat juga ya? Hahaha.”

“Hiks..hiks..” Aku benar-benar menangis sekarang.

“Ya! Ya! Kau tidak perlu berakting seperti itu. Kau pikir aku tidak tahu jika kau sedang berpura-pura?”

“Bodoh! Kau bodoh! Hiks.. benar-benar bodoh..”

“Apa maksudmu mengataiku seperti itu, Rae-a?”

“Mengapa kau berlari seperti tadi, eoh?! Apa kau lupa kau sedang membawaku? Apa kau lupa traumaku jatuh dari ketinggian? Apa selama setahun kau sudah melupakan banyak hal tentangku? Hah?”

“Maafkan aku, Rae-a. Jeongmal mianhae. Aku tidak bermaksud begitu. Kau salah, aku tidak pernah melupakan hal sekecil apapun tentangmu. Aku pikir, karena sudah lama traumamu jadi berkurang ternyata aku salah. Maafkan aku.”

“Turunkan aku sekarang.”

“Tapi Rae-a..”

“Cepat!”

Yoongi pun menurunkanku. Kurasa sepertinya kata-kataku tadi sungguh keterlaluan padanya. Tidak sepantasnya aku mengatakan hal yang menyakitkan itu pada Yoongi, namjachinguku sendiri. Untuk itu..

“Mianhae Yoongi-a. Tidak sepantasnya aku berbicara begitu padamu. Aku tahu kau tidak akan pernah melupakan hal apapun tentangku. Aku sudah keterlaluan.”

Aku memeluknya. Kubenamkan wajahku pada punggung Yoongi. Yoongi membalikan tubuhnya. Kini kami berhadapan meskipun aku masih menundukkan kepalaku.

“Sudahlah. Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku menggunakan kelemahanmu untuk mengerjaimu. Kau mau memaafkanku kan?”

Aku mengangguk.

“Mianhae..” Hanya itu yang dapat ku ucapkan.

“Kemarilah Rae-a..” Ucap Yoongi.

Kulirik Yoongi sekilas. Dia membentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan agar aku bersandar padanya. Segera aku menghambur kedalam pelukannya. Bayang-bayang kejadian yang membuatku trauma kembali bermunculan. Membuatku menangis sejadi-jadinya.

“Uljima.. uljima. Tenanglah ada aku disini. Sudah, tidak apa-apa.” Ucap Yoongi sambil mengusap kepalaku. Membuatku merasa nyaman. Bahkan cuaca dingin pun tidak menghalangiku untuk merasakan kehangatan yang Yoongi berikan padaku.

Sekarang, kami berada di sebuah taman. Salju-salju yang turun sudah menyelimuti segalanya yang ada disini. Begitu putih. Namun tetap cantik dilihat. Kami duduk di salah satu bangku yang tidak jauh dari tempat dimana kami berdiri.

“Haaah.. cantik sekali pemandangan ini. Begitu putih.” Ucap Yoongi.

“Hm. Benar. Apa kau menyukainya?”

“Sangat. Kau tahu sendiri jika putih adalah warna kesukaanku. Tapi aku menyukaimu, menyayangimu lebih dari apapun yang ada.”

Aku sedikit terkejut bercampur dengan senang. Rasanya sudah lama sekali tidak mendengarnya merayu seperti ini. Padahal baru saja kemarin dia merayuku untuk membantu menerjemahkan lirik lagu yang dia buat ke dalam bahasa inggris. Dasar. Sedang liburan masih saja memikirkan pekerjaan.

“Ah, keluarkan kameramu. Pemandangan cantik seperti ini tidak boleh disia-siakan.. ayo kita berfoto!” Seruku

Dengan segera, Yoongi pun mengeluarkan kameranya. Kini, kami mulai berfoto.

Pertama, Yoongi memotretku. Lalu, aku bergantian memotretnya. Kemudian, kami meminta seorang pengunjung lain untuk memotret kami. Yoongi melingkarkan lengan kekarnya pada pundakku dan mensejajarkan tingginya denganku sedangkan aku hanya membuat lambang ‘V’ pada kedua jariku.

“Siap?” Tanya pengunjung itu. Kami mengangguk kemudian memberikan senyuman terbaik yang kami miliki. “Hana..dul..set!” Seru pengunjung itu dan… Ckrek~

Yoongi segera berlari menghampiri pengunjung itu dan mengambil kamera miliknya. Tak lupa juga ia mengucapkan terimakasih pada pengunjung itu.

“Rae-a! Kemarilah, lihat foto ini!” Seru Yoongi

“A-aku.. tidak mau! Aku sudah tahu hasilnya akan jelek!”

Tentu saja aku sudah tahu hasilnya benar-benar jelek. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja Yoongi mengecup pipiku. Bagaimana aku tidak terkejut?

“Kau sama sekali tidak jelek. Tenang saja..” Ucap Yoongi seraya menghampiriku

“Sudahlah, tidak usah menghiburku. Aku tahu kalau aku..”

“Manis.” Potong Yoongi cepat.

“M-mwo?” Tanyaku tidak percaya.

Kelakuannya belakangan ini agak aneh memang. Tapi aku menyukainya.

“Tidak dengar? Aku bilang kalu kau ini ‘manis’. Mungkin kita harus mengunjungi rumah sakit setelah ini.” Ucap Yoongi sedikit ketus.

Ini baru Yoongi yang ku kenal. Dingin, tapi dia sebenarnya peduli padaku.

“Aku mendengarnya. Tenang saja.. Aku hanya sedikit terkejut saja tadi.” Ucapku beralasan

“Terserah apa katamu saja..” Yoongi menarik hidungku.

“Ya! Appo!” Pekikku sambil memasang wajah kesakitan yang dibuat-buat dengan sedikit aegyo. Tentu saja aegyoku sangat jauh dari kata ‘cute’ dibanding aegyo milik Yoongi. Sial.

Yoongi hanya tertawa. Entah mengapa hanya dengan melihat tawanya saja bisa membuat sudut bibirku ini terangkat. Mungkin ini efek dari jatuh cinta.

“Kajja kembali duduk sebelum ditempati orang lain.” Ajak Yoongi kemudian menggenggam tanganku. Aku mengangguk dengan riang. Mungkin saat ini aku sedang bertingkah layaknya gadis kecil yang diajak Appanya pergi ke taman hiburan. Perumpamaan aneh memang, tapi seperti itulah yang kurasakan. Bahagia.

“Ah, aku lupa. Kau tunggu di sini, aku akan membelikan coklat panas untuk kita. Aku akan segera kembali.” Ucap Yoongi seraya bangkit dari duduknya.

“Ani. Aku ikut bersamamu.” Ucapku menahan lengan Yoongi. Yoongi tersenyum.

“Chagi, udaranya semakin dingin. Lebih baik kau tetap disini dan pakai sarung tanganmu. Aku tidak ingin kau sakit. Tunggulah, aku tidak akan lama.” Titah Yoongi.

“Arraseo chagi!” Seruku.

Aku membuka ponselku sesaat setelah Yoongi pergi. Kulihat wallpaper ponselku. Fotoku dan Yoongi saat menggendong seorang bayi lucu saat kami mengunjungi sebuah panti asuhan beberapa waktu lalu. Sempat terbesit dalam pikiranku, apakah aku akan bersama dengan Yoongi sampai akhir hidup kami?

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yoongi tiba-tiba membuatku tersentak kaget.

“Tidak ada.” Jawabku.

“Hm. Itu foto saat kita di panti asuhan waktu itu kan? Jadi kau memandangi foto itu? Apa aku tampak keren disana?”

Aku tertegun sesaat. Memang harus ku akui, Yoongi tampak sangat dewasa saat menggendong bayi mungil itu. Tapi bukan itu intinya,

“Keren? Kau ini percaya diri sekali. Aku hanya sedikit memikirkan anak-anak panti itu. Harapan –harapan yang mereka ucapkan saat natal, sangat tulus dari hati. Aku sedikit terharu, semoga harapan mereka terkabul.” Ucapku.

“Ya, semoga saja. Umm.. tentang harapan, Rae-a apa harapanmu?”

“Eoh? Hmm.. harapanku.. jika itu memungkinkan, aku ingin menjadi orang pertama yang kau temui. Saat pertama kali kau membuka mata di pagi hari, hingga saat kau akan terlelap di malam hari. Bagaimana denganmu?”

“Pasti kau mengira harapanku akan sama denganmu bukan?”

“Tentu saja. Kita ini sepasang kekasih.”

“Begitu? Kau salah.. harapanku tidak sama denganmu.”

“M-mwo?!”

Yoongi tersenyum. Kemudian Ia menggenggam erat kedua tanganku. Entah, tiba-tiba saja aku jadi begitu gugup saat menatapnya.

“Harapanku adalah menjadi seseorang yang bisa mengabulkan setiap harapanmu. Bersiaplah.”

Mataku membulat. Apa ini nyata? Atau ini masih di alam mimpi? Jika ini mimpi, tolong jangan pernah bangunkan aku karena ini adalah momen terindah dalam hidupku. Tidak. Ini, ini nyata!

Yoongi mengambil sesutu dari dalam tasnya. Dikeluarkannya sebuah tempat berbentuk bundar yang ternyata berisikan sepasang cincin.

“Apa kau terkejut?” Tanyanya saat melihat ekspresi wajahku yang penuh dengan keterkejutan. Aku mengangguk perlahan.

“Sudah ku katakan, persiapkan dirimu. Hehe.” Dia tertawa. Apa wajahku benar-benar lucu?

“Aku menyayangimu. Sangat. Kurasa ini adalah waktu yang tepat setelah 5 tahun kita mengisi lembar demi lembar kisah kita bersama.Aku ingin selalu berada di sisimu dari pagi hari hingga malam hari, ahkan sampai akhir hidupku. Kaulah masa depanku satu-satunya. So, will you marry me, Rae-a?”

“Yes, I will.. I will, Yoongi!!” Jawabku.

Aku benar-benar bahagia. Bahkan air mata kebahagiaanku pun sudah mengalir membasahi pipiku ini. Yoongi lalu memelukku erat.

“Gomawo Rae-a. Aku menyayangimu.” Ucap Yoongi diiringi senyum dan tawa bahagianya.

Tuhan, mungkin ini adalah natal terindah yang pernah ku alami dan tidak akan pernah ku lupakan seumur hidupku karena kini telah hadir seseorang yang mewujudkan harapan terbesarku.

—END—

Gimana readers? Makasih buat yang udah baca FF author ini, dan makasih juga karena udah mampir di blog author dan kawan-kawan. Hahaha.. Author 1 pamit dulu. Tinggalkan jejak yaaa… Gomawo. Ppyeong~

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s