Starring Eyes

Starring Eyes
Author: Park Eun Hye
Rating: PG-16
Genre : Romance

Main cast:
• Park Jimin
• Jung Yoon Hee
Other Cast :
• Park Eunhye
• Cho Hyojin
• Jung Hoseok a.k.a J-Hope

Disclaimer :
Hallo, saya author 1. FF ini adalah FF pertamaku. Karena masih pemula, jadi maaf banget kalo ada
yang ga jelas, aneh, atau typo, dll. Aku ini masih polos tentang ff, kawan. #gananyayah.
Tapi aku bakal berusaha buat jadi lebih baik kok. Ini FF murni buatan aku, inspirasi dari temen aku sesama author hehe. Semua yang ada di sini milik Tuhan dan ortu masing-masing wkwk.. Sekian basa-basi dari aku.

starring eyes

~HAPPY READING~

———————————————————————————————————————————————————————

‘Dirimulah bintangku, kilau matamulah kedamaianku.’

Libur musim panas dimulai. Aku dan sahabatku, Eunhye dan Hyojin pergi keluar mencari hiburan atau hanya sekedar berjalan-jalan menikmati musim ini. Tidak, hanya aku saja yang menikmati musim ini sedangkan Eunhye dan Hyojin menyukai musim gugur.

Aku, dan sahabatku. Kami merupakan siswi populer di sekolah kami. Bukan sebagai anak yang baik, tetapi sebagai anak yang membenci sekolah. Kalian tahu kan tingkah laku murid yang membenci sekolah? Ya, seperti itulah kami. Tapi untungnya, nilai kami selalu saja bagus. Hidup ini memang penuh dengan keberuntungan. Jujur, aku secara pribadi mempercayai harapan pada bintang jatuh karena ku anggap itulah keberuntunganku maka dari itu, aku menyukai segala hal tentang bintang.

“Ayo kita membeli minuman, aku haus sekali! Ayolah.” Pinta Eunhye padaku. Benar kan, dia membenci panas maka dari itulah dia yang paling banyak mengeluh jika memasuki musim ini. “Cepatlah! Kalian lamban sekali!” Gerutu Eunhye yang sudah berjalan mendahului kami menuju kedai minuman.

“Yoonhee-a, ayo jalan. Jangan sampai Eunhye mengamuk pada kita nanti.” Ucap Hyojin membuyarkan lamunanku.

“Ah, kajja!”

Sebenarnya, aku memperhatikan seorang namja. Namja yang unik, dan bergaya ‘swag’ sangat menarik perhatianku. Aku benar-benar tertarik padanya.

“Ya! YoonHee-a! Kau berjalan terlalu lamban.” Seru Hyojin yang ternyata sudah mendahuluiku. “Sepertinya, kau tidak mendengarkanku. Kau… apa yang sedang kau lihat?”

“Dia.” Jawabku singkat sambil menunjuk seorang namja bergaya ‘swag’ yang sejak tadi kuperhatikan.

“Dia? Bukankah dia adalah senior kita?”

“Mwo?! Jinjja?!” Seruku tidak percaya. Bagaimana tidak? Kami satu sekolah dan aku tidak pernah melihatnya.

Aku terus memandang namja itu. Manik mataku kini mengikuti setiap pergerakannya. Sampai tiba-tiba saja langkahku terhenti. Mataku terbuka lebar pertanda tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Namja yang untuk sesaat mencuri perhatianku, kini tengah merangkul seorang yeoja yang tidak lain adalah Eunhye. Sahabatku sendiri. Dadaku sesak. Entah mengapa terasa sakit.

“Mereka terlihat serasi. Tak kusangka mereka bertemu lagi disini. Siapa yang sangka kalau hubungan mereka harmonis sekali.” Celetuk Hyojin. Celetukannya ini membuat hatiku semakin sakit saja.

“Hubungan mereka harmonis? Apa sudah sejak lama?” Tanyaku hati-hati.

“Hm? Sepertinya begitu. Hhh~ Jimin oppa dan Eunhye. Aku iri melihat mereka berdua.”

‘Jadi nama namja itu adalah Jimin.’

“Yoonhee-a! Hyojin-a! Cepatlah! Kedai ini hampir penuh!” Seru Eunhye sambil melambaikan tangannya dari kejauhan diikuti tatapan namja bernama Jimin itu. Aku menghampiri mereka diikuti Hyojin di belakangku.

“Ah, teman-temanmu sudah datang. Oppa pergi dulu ya, jadilah anak yang baik. Arra?” Ucap Jimin sambil mengusap pucuk kepala Eunhye.

“Oppa! Aku ini bukan anak kecil, jangan buat aku malu di depan teman-temanku!”

“Bagiku, kau tetap seperti anak kecil karena kau ini manja sekali padaku.”

Eunhye mempoutkan bibirnya lucu kemudian disusul dengan senyuman Jimin. ‘Omo! Senyumnya manis sekali. Tidak. Bukan itu, matanya amat berkilauan bagaikan bintang yang menghiasi langit malam.’ Batinku dalam hati. Tanpa sadar aku terus menatap namja bernama Jimin itu. Tiba-tiba saja Jimin menatapku. Aku terdiam untuk sesaat karena terkejut kemudian aku membungkukkan badanku sebagai tanda memberi salam. Namja di hadapanku itu sempat memasang wajah terkejut kemudian membalas salamku dan tersenyum sambil berlalu. Apa aku salah jika melakukan ini? Semua terjadi begitu saja.

“Yoo, Yoonhee-a apa yang kau lakukan?” Tanya Hyojin yang setengah terkejut dengan apa yang aku lakuakan. Merasa mengerti dengan yang dimaksud Hyojin, segera kualihkan pandanganku pada Eunhye.

“Mianhae Eunhye-a, aku tidak ber-“

“Sudahlah, tidak apa-apa.” Eunhye menyela kalimatku yang belum selesai, Apa dia tahu yang ku maksudkan? Aku sedikit menyesal sekarang.

.

Libur musim panas telah berakhir, hari ini merupakan hari pertama dimulainya kegiatan belajar mengajar di sekolahku. Aku ingin melihat Jimin oppa. Mungkin aku harus menemuinya, tapi aku tidak tahu dia di kelas berapa. Kecil kemungkinan kami untuk bertemu. Sekolah ini cukup luas.

“Kau.. teman Eunhye yang di kedai minuman waktu itu, bukan?”

Terdengar sebuah suara yang kurasa itu ditujukan padaku. Sepertinya aku mengenali suara itu. Kuberanikan diri untuk menoleh ke sumber suara tersebut dan ternyata

“Jimin oppa?” Tanpa ku sadari, kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku.

“Ah, benar. Kau teman Eunhye. Siapa namamu?” Tanya nya

Apakah ini sebuah mimpi? Atau ini memang keberuntunganku? Namja yang telah membuatku tidak tenang selama libur musim panas kemarin kini menanyakan namaku. Aku tidak dapat berkata-kata saking senangnya. Tanpa sadar aku hanya diam dan menatap kedua buah matanya yang sudah seperti bintang bagiku.

“Maaf kalau aku mengejutkanmu, tapi kita belum mengenal satu sama lain sebelumnya. Perkenalkan, aku Jimin. Aku berada di kelas 3. Kau?” Ucapnya memecah keheningan yang sempat tercipta di antara kami.

“Ah, Yoonhee. Jung Yoonhee.” Jawabku singkat.

…Kriiingg…

Bel masuk berbunyi. Kurasa bel sialan itu berbunyi di saat yang tidak tepat. Maksudku, ayolah.. siapa yang ingin diganggu saat sedang bersama orang yang spesial bagimu?

“Sebaiknya kau masuk ke kelasmu, Yoonhee-a.” Ucap Jimin oppa mengingatkan. Aku hanya mengangguk dan setelah itu kami berpisah, menuju kelas masing-masing.

“Psst.. Hyojin-a, apa kau menyadari kalau ada hal yang aneh pada Yoonhee? Belakangan ini dia sering tersenyum sendiri. Ada yang salah dengannya.” Bisik Eunhye

“Entahlah, mungkin dia sedang jatuh cinta pada seseorang.”

Selalu saja, setiap hari hanya itu pertanyaan kedua sahabatku ini tetapi aku mengabaikannya. Hari demi hari terus berlalu. Hari-hariku yang biasanya begitu kelam dan sungguh membosankan, kini dihiasi dengan warna-warna yang mulai terlukis di hidupku sejak aku mulai mengenal Jimin oppa. Sejak perkenalanku dengan Jimin oppa waktu itu, makin hari kami semakin dekat saja. Entah itu benar atau hanya perasaanku saja?

Memang kerap kali hatiku sakit setiap melihat Eunhye yang pulang bersama Jimin oppa atau melihat Jimin oppa sedang bercanda bersama Eunhye. Jujur, itu sangat menyakitkan. Hatiku seolah tercabik.

.

“Besok ada waktu?” Tanya Jimin oppa yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana di hadapanku. Aku terdiam sesaat lalu kemudian memukulnya cukup keras.

“Ya! Mengapa kau memukulku? Ini sungguh menyakitkan!”

“Itu hukuman karena Oppa mengejutkanku dengan pertanyaanmu itu!”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Paling tidak, kau tidak mengejutkanku.”

“Hah.. kau ini.”

“Hehehe… Hm, memangnya apa yang Oppa tanyakan tadi?”

“Kau lupa? Omona, belum lama aku bertanya dan kau sudah lupa? Apa telingamu tidak berfungsi eoh?”

“Ya! Oppa, tadi aku terkejut, maka dari itu aku tidak sempat mendengar pertanyaanmu.”

“Baik, baik.. Apa kau besok ada waktu?”

“Hmm, ada. Tapi aku ada janji dengan Eunhye dan Hyojin.”

“Baiklah kalau memang kau sudah ada janji.”

Jimin pergi begitu saja. Kurasa, sepertinya aku salah bicara. Tidak. Aku ini benar-benar bodoh! Tadi itu merupakan kesempatanku untuk bisa meluangkan hari esok bersama Jimin oppa. Dasar bodoh! sebenarnya, aku berniat membatalkan janjiku tapi sahabatku ini sangat antusias saat mengajakku. Aku jadi tidak enak hati.”

Hari yang seharusnya menjadi hariku dan Jimin oppa sudah tiba. Segera aku berlari menuju rak sepatu dan menyambar sepatuku lalu memakainya dengan tergesa. Aku sudah terlambat!

“Mau kemana eoh?” Tanya Hoseok Oppa saat aku sedang memakai sepatu. Apa dia tidak melihat bahwa aku sedang tergesa-gesa begini?

“Menurutmu?” jawabku ketus.

Aku dan Hoseok, kami adalah adik-kakak. Sebenarnya Hoseok adalah Oppa yang baik, dia selalu peduli padaku. Tapi bagiku, dia tidak lebih dari seorang yang menyebalkan. Dia mengambil semua perhatian Eomma dan Appa dariku. Oppa macam apa dia?

“Yoonhee-a, kau mau kemana?” Tanya Hoseok oppa lagi.

“Bukan urusanmu!” Kata-kata kasar terlontar begitu saja dari mulutku tiap kali aku mengingat apa yang telah dia rebut dariku.

“Yoonhee-a, biarkan oppa mengantarmu. Mengapa kau selalu begitu padaku? Memangnya apa salahku?”

Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipiku. Entah sudah sejak kapan air mataku mengalir. Jujur, sebenarnya aku sangat menyayangi oppaku ini tapi aku tidak tahu harus bagaimana.

“Yoonhee-a? Apa kau menangis? Ada apa? Ceritakan saja pada oppa.” Ucapan Hoseok oppa terdengar khawatir.

“Kau! Aku benci padamu! Mengapa harus kau yang menjadi oppaku?! Aku benci menjadi adikmu!”

Aku berlari menjauhi rumah yang menurutku sebagai neraka itu. Selama berlari, aku terus menangis. Entah apa yang akan dipikirkan Eunhye dan Hyojin nanti saat melihat kedua mataku yang membengkak ini tapi aku tetap tidak peduli.

“Eunhye, Hyojin, mianhae aku terlam..” pembicaraanku terhenti. Bukan karena aku melihat wajah Eunhye dan Hyojin yang siap memarahiku habis-habisan, tapi ini karena seorang namja yang sekarang tengah menatapku. Jimin Oppa.

“Yoonhee-a?” Tanyanya, “Sedang apa kau…”

Jimin oppa terdiam. Kini dia terus memandangiku dengan tatapan terkejut. Dia menatap kedua mataku lekat-lekat. Sadar dengan apa yang terjadi dengan kedua mataku, sesegera mungkin aku memalingkan wajahku agar mataku yang membengkak ini tidak kembali ditatap oleh Jimin oppa.

“A-apa yang Oppa lakukan disini?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Oh, aku tadi sedang menunggu Eunhye dan Hyojin. Kau sendiri?”

Benar, Eunhye pasti akan mengajak Jimin oppa juga. Aku ini bodoh sekali menganggap kalau ini adalah suatu kebetulan.

“Aku ada janji dengan Eunhye dan Hyojin, ingat? Hmm, tapi sejak tadi aku tidak melihat mereka.” Jawabku

“Kau tidak akan menemukan mereka di sini Yoonhee-a, mereka sudah ku suruh untuk pergi ke tempat lain.”

“Tapi, mereka tidak memberi tahuku. Tega sekali mereka itu!”

“Aku yang menyuruh mereka untuk tidak memberitahumu. Sebenarnya, aku hanya berpura-pura menunggu mereka. Yang kutunggu sebenarnya adalah kau.”

“A-aku? Tapi kenapa?”

“Karena aku ingin bersamamu.” Kini dia memancarkan senyuman manisnya sambil menatap kedua mataku dengan matanya yang berkilauan seperti bintang itu.

“Bersamaku? Ke-kenapa?”

“Hm? Memangnya tidak boleh?”

“Bu-bukan begitu. Maksudku, kau kan kekasihnya Eunhye harusnya kau..”

—Chu—

Sebuah kecupan mendarat tepat di bibirku. Jantungku berdegup kencang, pipiku kini memanas dan bersemu merah. Aku yakin itu. Ini adalah first kiss ku dan Jimin oppa mengambilnya tanpa izinku!

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Seruku

“Itu hukuman untukmu karena sudah menyebut Eunhye sebagai kekasihku.” Mwo? Bukankah mereka adalah 2 orang yang terikat dalam sebuah hubungan yang harmonis? Berarti…

“Eunhye adalah adikku. Kami tidak mungkin menjadi kekasih, Babbo!” Ucap Jimin

“Eunhye, adikmu?” Tanyaku masih tidak percaya.

Jimin oppa hanya tertawa kemudian duduk di bangku yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. Aku duduk di sampingnya masih dengan wajah bingung.

“Wah, kalian sudah sangat akrab rupanya.” Celetuk seseorang yang mengalihkan perhatianku dan Jimin oppa padanya. Eunhye.

“Misi kita berjalan baik, Eunhye!” Seru Hyojin.

“Kalian ini memang tega se-“

“Benar, kami iini memang serasi.” Potong Jimin oppa cepat kemudian melingkarkan lengan kekarnya di bahu dan pundakku. Aku hanya bisa diam, mukaku kini memerah.

“Jeongmal gomawoyo nae saeng!” Ucap Jimin oppa pada Eunhye.

“Ne, sudah tugasku sebagai adik, oppa.” Balas Eunhye.

Ah, jadi ini yang dimaksud Hyojin dengan hubungan yang harmonis? Hubungan kakak-adik yang sangat baik. Ternyata aku hanya salah paham selama ini. Benar yang dikatakan Hyojin, Eunhye dan Jimin oppa sangat kompak. Sedangkan aku? Aku selalu jahat pada Hoseok oppa padahal dia sudah baik sekali padaku. Mungkin aku harus memperbaiki hubunganku dengannya.

“Apa yang kau pikirkan, Yoonhee-a?” Tanya Eunhye tiba-tiba.

“Apa saja yang sudah kalian berdua lakukan tadi, hah?” Celetuk Hyojin yang membuatku teringat akan kecupan dari Jimin oppa tadi.

“Mwo? Tidak ada! Kami tidak melakukan apa-apa!” Seruku membela diri

“Kau berbohong, wajahmu memerah!” Bantah Hyojin

“Tidak!” Seruku lagi

“Ya! Ya! Ya! Sebaiknya kalian pergi ke tempat lain saja. Jangan ganggu Yoonheeku!” seru Jimin oppa pada Eunhye dan Hyojin.

“Arraseo, enjoy your time~” ucap Eunhye kemudian berlalu bersama Hyojin.

‘Yoonheeku’? Seenaknya saja dia berkata begitu.

“Apa maksudmu menyebutku sebagai milikmu?” tanyaku meminta penjelasan

“Kau ini sudah menjadi kekasihku. Kekasih Park-Ji-Min.” ejanya.

“Huh, apa yang membuatku langsung menjadi milikmu hah?”

Jimin oppa menggerakkan telunjuknya mengisyaratkanku untuk mendekat. Mungkin, dia ingin membisikanku sesuatu. Ku dekatkan wajahku dan..

—Chu—

Jimin oppa mengecupku lagi. Dia hanya tersenyum dan menunjukan wajah tanpa dosanya padaku. Namja ini benar-benar…

“Oppa! Kau…”

“Itu adalah tanda bahwa kau telah menjadi kekasihku, arra?” Jawabnya santai.

“Hanya itu saja?” tanyaku sedikit kesal.

“Wae? Kau ingin lebih? Rupanya kau dewasa sekali ya..” Ucapnya membuatku salah tingkah. Memang salahku karena salah memilih kata. Huft~

“Bu-bukan begitu. Maksudku, mengapa kau ini tidak ada romantis-romantisnya sama sekali?”

“Jadi, kau ingin aku menjadi romantis, eoh? Baiklah.” Jawabnya menyanggupi.Kini, kami sudah sampai di sebuah restaurant. Restaurant yang cukup high class.

“Kau duduklah disini. Aku ada perlu sebentar.” Ucap Jimin oppa. Aku mengangguk.

“Lagu ini akan saya persembahkan untuk yeoja manis yang ada di sana.” Sebuah suara yang kukenal, tatapan pengunjung lain yang tertuju padaku, pasti akulah yang dimaksud. Jimin oppa akan bernyanyi untukku? Di depan semua pengunjung restaurant ?

“Selamat menikmati lagu ini, Yoonhee-a.” ucapnya lagi seraya mulai bernyanyi.

I just wanna love ya
I just wanna love ya
It still feels like a dream oh baby
I just wanna love ya
I just wanna love ya
You already know this oh baby

As I drink coffee I look into your eyes again
I think I’m going to fall asleep oh no no
When I look at you like that, if I ruled the world
It feels like you’re next to me again

Tell me that you still haven’t let me go
If this a nightmare then please quickly save me
Look well, look even today
I’m still waiting for you

I just wanna love ya
I just wanna love ya
It still feels like a dream oh baby
I just wanna love ya
I just wanna love ya
You already know this oh baby

Hey girl, wanna date with me?

Jimin oppa mengakhiri lagunya disambut dengan riuh tepuk tanagn pengunjung restaurant.Tak kusangka Jimin oppa bisa melakukan hal yang romantis seperti itu. Aku benar-benar terpukau.

“Bagaimana? Kau suka?”

“Ah, oppa kau keren sekali.”

Tiba-tiba Jimin oppa menarikku keluar dari kursiku kemudian Jimin oppa menggenggam erat kedua tanganku.

“Yoonhee-a, aku menyayangimu. Aku suka padamu saat pertama kali kita bertemu. Sejak pertemuan itu, aku terus memikirkanmu, hatiku tidak tenang jika tidak bertemu denganmu mesikup hanya sehari. Untuk itu, kumohon jadilah kekasihku.” Ucap Jimin.

Aku hanya bisa diam mematung. Aku tidak percaya Jimin oppa benar-benar melakukan ini, dia mengatakan semuanya dengan tulus. Oppa, aku tahu apa yang kau rasakan karena aku pun juga merasakan hal yang sama. Untuk itu..

“Aku akan menjadi kekasihmu, oppa. Saranghae.” Jawabku kemudian tersenyum pada namjachinguku, Jimin.

“Kau sungguh-sungguh?” Tanyanya. Aku mengangguk. Jimin oppa kini memelukku. Memelukku dengan erat. Riuh tepuk tangan para pengunjung restaurant menyambut kami dengan meriah. Benar-benar terjadi suatu keajaiban disini.

“Jangan pernah tinggalkan aku, ya?” pintaku.

“Tentu saja. Itu takkan pernah terjadi.”

Kini kudapatkan bintang sejati dihidupku, keberuntunganku, kedamaianku, semuanya ada padamu, pada kedua matamu yang berkilauan bagaikan bintang-bintang pengisi langit malam. Saranghae oppa.

—END—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s