Love, that one word.

Main cast:
• Kim Hwa Yeon (OC)
• Cho Kyuhyun (Super Junior)

Other cast:
• Han Jisung
• Jung Yoon Hee

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance
Length: Oneshoot
Rating: PG-13

Note: typo bertebaran, tapi tetap dilarang copas. FF ini murni ide saya, maaf kalau kurang bagus. Maklum, masih pemula hehehe. Kalau ga suka, tinggal klik tombol back. Lebih baik menjadi silent reader dari pada ngebashing disini. Terimakasih ^^

Love, that one word cover

-o0o-

Sebenarnya aku tak mengerti bagaimana perasaanmu padaku. Sikapmu menunjukkan kalau kau menyayangiku, menyukaiku. Tapi tak pernah sekalipun kau mengatakannya, saat ku pancingpun kau selalu mengalihkan pembicaraan.
Apa mungkin aku yang terlalu berlebihan? Mungkin kasih sayang yang tercurah darimu itu hanya sekedar oppa dan dongsaeng. Yah, mungkin saja begitu..

-o0o-

*Hwa Yeon pov*

“Oppa saranghae…” kupadandangi wajah tampannya yang kini berada di hadapanku dengan raut tercengang. Ia sama sekali tidak menjawabku, entah kenapa rasanya sangat sakit sekali. Harusnya aku sudah terbiasa bukan? Ini bahkan bukan yang pertama kalinya. Haha.. menyedihkan sekali.

“Nado saranghae.”

Deg!

Jantungku berdegup kencang tak karuan. Apa benar dia mencintaiku? Apa aku sedang bermimpi? Kalau begitu aku tak ingin bangun saja.
“Kau yadongsaeng yang paling ku sayangi.” Ah, hanya dongsaeng ternyata. Ck, aku berbahagia bahkan tidak sampai 5 menit, tapi dia sudah kembali menghempaskanku ke dalam lautan kepedihan.
“t-tentu saja. Ahahaha.”

.

“Hwa Yeon-ah, kenapa kau menyerah sekarang? Bukankah kau mencintainya?” kupandangi Yoon Hee eonni yang kini tengah duduk dihadapanku sambil mentapaku errr,… iba.
Aku baru saja menceritakan keputusanku untuk mencoba berhenti mencintai Kyuhyun oppa. Well, ini bukan pertama kalinya aku menginginkan untuk ‘move on’. Selama 5 tahun aku mencintainya, tak pernah sekalipun niatanku untuk berhenti mencintainya itu berhasil. Bukannya berhasil, aku malah berakhir dengan menangis di pelukan Kyuhyun oppa.

Aigoo….

“Aku memang mencintainya eonni, tapi aku harus bagaimana? Dia hanya memandangku sebagai yadongsaengnya, aku tidak bisa selamanya seperti ini bukan? Aku lelah eonni.”

“Kenapa kau jadi seperti ini? Bukankah biasanya kau selalu bersemangat untuk mendapatkan cintanya? Ayolah, mana Kim Hwa Yeon yang biasanya.”
Ish, eonni memang menyebalkan. Saat ini aku btuh dukungan! Kukira ia akan mendukungku, kenapa ia malah seakan melarangku untuk melupakan Kyuhyun oppa? Biasanya dia yang paling semangat saat kuberitahu kalau aku ingin melupakannya. Cih.

Drrtt Drrtt

Ku ambil ponselku yang terus bergetar ria di kantung celanaku. Aku mengerutkan keningku bingung saat tau siapa yang menelponku.
“Yeobosaeyo? Jisung oppa? Ada apa menelponku?” Aku sedikit melirik kearah Yoon Hee eonni yang kini memandangku dengan pandangan ‘untuk apa Jisung menelponmu?’, aku menggendikkan bahuku sebagai jawaban. Aku memang tak tau bukan?

*Author pov*

“Yeobosaeyo? Jisung oppa? Ada apa menelponku?” Yoon Hee terus menatap Hwa Yeon intens dengan pandangan bertanya yang dihadiahi gendikkan bahu. Yoon Hee mengerutkan keningnya bingung, sedangkan Hwa Yeon masih terus mengobrol dengan orang yang bernama Jisung itu.

“Eoh? Makan malam?” Yoon Hee mencoba menajamkan pendengarannya, tapi ia tidak bisa mendengar apapun.

“…”

“Eh? Itu restaurant Itali favouriteku oppa.”

“…”

“Tentu saja aku bersedia oppa. Baiklah, aku akan menunggumu.”

“…”

“Ne, arraseo. Annyeong.”

Pip!

Hwa Yeon memandangi Yoon Hee yang entah sejak kapan memandangnya intens seakan dia itu maling yang ketahuan sedang mencuri.
“Apa?” Tanya Hwa Yeon bingung. Yoon Hee hanya menunjuk-nunjuk ponsel yang kini dipegang Hwa Yeon.
“Ah, Jisung oppa?” Tanya Hwa Yeon yang dihadiahi anggukan cepat.
“Jisung oppa mengajakku makan malam eonni, ia akan menjemputku di sini. Mungkin sebentar lagi ia sampai.” Jawab Hwa Yeon santai.

“Mwoya! Bukankah kau tidak diperbolehkan berhubungan dengan manusia bernama Jisung itu? Kenapa kau malah menerima ajakan makan malam darinya. Bagaimana kalau kau di apa-apakan? Terus bagaimana nanti kalau oppamu tau kau pergi dengannya? Hanya berdua pula. Andwae! Aku tidak mengijinkanmu pergi, terlebih dengannya.” Yoon Hee menyerocos panjang lebar membuat Hwa Yeon melengos pasrah.

Kenapa semua orang begitu overprotektif? Bukankah ini Cuma makan malam biasa? Aiigo, ini benar-benar menyebalkan. Batin Hwa Yeon kesal
“Aku akan tetap pergi eonni.” Jawab Hwa Yeon tegas. Yoon Hee terdiam. Ia lupa, gadis yang kini sedang ia hadapi itu begitu keras kepala. Ck ck ck

Hwa Yeon memang mengatakan keputusannya dengan tegas, tapi sejujurnya ia sangat resah. Bagaimana tidak? Orang-orang di sekelilingnya itu sangat sangat sangat sangat sangat overprotektif pada dirinya.
Terlebih oppanya, ia bisa dicincang jika tau ia menerima ajakan makan malam yang ditawarkan oleh Jisung. Oh God!

“Hwa Yeon-ah.” Hwa Yeon dan Yoon Hee sontak menoleh kearah seorang pria yang kini tengah berdiri dihadapan mereka dengan senyum menawan. Hwa Yeon hanya tersenyum canggung, sedangkan Yoon Hee hanya memutar bola matanya malas sebagai bentuk dari rasa tidak sukanya pada orang itu.
“E-eh? O-oppa sudah datang? Apa kita pergi sekarang?” Tanya Hwa Yeon cepat saat sadar ada aura kebencian stadium akhir yang terpancar jelas dari sang eonni.

“N-ne. Tentu saja. Ayo.” Ucap Jisung canggung. Hell! Jisung sangat gugup saat ini. Aura kebencian yang terpancar jelas dari mata Yoon Hee sukses membuatnya mati kutu.
Jisung itu sebenarnya ‘mantan kekasih’ Hwa Yeon saat SMA dulu. Mereka putus karena Jisung tertangkap basah sedang bercumbu dengan wanita lain, padahal statusnya saat itu masih ‘kekasih Hwa Yeon’.

Jisung sebenarnya orang yang cukup menarik. Tubuhnya tinggi tegap dengan raut wajah tampan, kulitnya juga putih mulus. Ah, jangan lupa, senyumnya pun sangat menawan. Tidak heran jika banyak wanita yang tergila-gila padanya.

Tapi tetap saja, walau fisiknya sempurna, dia adalah seorang buaya darat. Seberapa jinaknya seorang buaya, dia tetaplah seorang buaya. Hwa Yeon sudah berpengalaman, dan dia tidak akan terlena untuk yang kedua kalinya.
Hwa Yeon dan Jisung akhirnya pergi dari hadapan Yoon Hee. Yoon Hee bergumam pelan lalu menyambar ponselnya, mengetikkan nomor seseorang, lalu menelponnya.
mianhae Hwa Yeon-ah, aku lakukan ini untuk kebaikanmu. Batin Yoon Hee pasrah.

“Yeobosaeyo?” jawab seseorang di ujung sana.
“Ah oppa, ada sesuatu yang ingin kuberitahu.” orang yang sedang menerima telepon di tempat lain mengerutkan keningnya bingung.

“Apa?” tanyanya singkat.

“Hwa Yeon sedang pergi makan malam.” Jawab Yoon Hee singkat semakin membuat orang diujung telepon mengertukan
keningnya lagi.
Hwa Yeon hanya makan malam, lalu kenapa? Masa begini saja harus lapor padaku? pikir orang itu heran.
“Ia makan bersama Jisung.” Lanjut Yoon Hee ragu.

Deg!

“Berdua.” Lanjut Yoon Hee tegas. Orang itu diam.

1detik..
2 detik..
3 detik..
4 detik..

“MWOYA!” Yoon Hee menjauhkan ponselnya dari telinganya lalu mendekatkannya kembali.
“Kau harus menyusul mereka Kyu! Aku takut terjadi sesuatu.” Lanjut Yoon Hee khawatir.
Khawatir? Oke, ia sangat khawatir sekarang. Bagaimana tidak? Hwa Yeon pernah hampir diperkosa oleh makhluk bernama Jisung itu.

Tapi kenapa Hwa Yeon mau-mau saja di ajak makan malam oleh makhluk itu? Jawabannya adalah karena Hwa Yeon tidak mengingatnya.
Kyuhyun yang datang tepat waktu, berhasil menggagalkan usaha Jisung untuk memperkosa Hwa Yeon. Hwa Yeon yang ketakutan hanya bisa menjerit tak karuan, membuat anak buah Jisung yang berada di sana memukul kepalanya dengan balok kayu, dan beginilah jadinya. Hwa Yeon mengalami amnesia tapi hanya kejadian itu saja yang ia lupakan.

Dokter bilang, itu bentuk pertahanan dari otaknya, dan itu akan berlangsung selamanya. Bagus untuk Hwa Yeon, ia tidak akan merasa takut karena ia memang tidak mengingat kejadian itu, tapi berbeda dengan Jisung. Ia senang? Oh tentu saja, ia bisa dengan leluasa mendekati Hwa Yeon kembali tanpa takut perbuatan kejinya diketahui oleh gadis itu.

Well, sebenarnya ia tidak sepenuhnya leluasa karena orang-orang di sekeliling yeoja itu sangatlah protektif. Berhubung yeoja itu adalah yadongsaeng satu-satunya dari salah satu member Super Junior yang mempunyai julukan ‘Korea No.1 Handsome Guy’, yeoja itu benar-benar dijaga dengan sangat ketat. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, dll.

“Arraseo, Gomawo untuk informasinya.” Ucap Kyuhyun tulus.

“Ne, cheonma.” Ucap Yoon Hee tak kalah tulus.

Bip!

Kyuhyun memutuskan sambungan teleponnya terlebih dahulu lalu mendesis geram. Otaknya benar-benar frustasi karena ia merasa cemas sekaligus marah. Ia menekan tombol nomor 1, lalu tanpa menunggu terlalu lama, teleponnya pun diangkat.
“Yeobosaeyo Kim Hwa Yeon-ssi. Boleh kutahu sedang apa sekarang” Suara Kyuhyun terdengar sangat dingin dan menyeramkan. Orang yang ditelepon di ujung sana pun hanya bisa menelan salivanya takut-takut.

“A-aku em.. s-sedang-“ Hwa Yeon menjawab dengan tersendat-sendat. Ia benar-benar gugup dan takut, suara Kyuhyun sudah cukup memberitahunya kalau namja itu tengah marah.
“Aiish! Katakana dimana kau sekarang!” bentak Kyuhyun tiba-tiba membuat Hwa Yeon kaget.

*Hwa Yeon pov*

Kupandangi ponselku dengan gugup. Eotteokhae? Kyuhyun oppa menelpon! Apa ia tau kalau aku sedang makan malam dengan Jisung. Huaaaaa. Ini pasti ulah Yoon Hee eonni!! Eonni yang menyebalkan! Huh! Awas saja! Aiiish! Bagaimana in! Eomma!!!!!
“Siapa yang menelpon Hwa Yeon-ah? Kenapa tidak kau angkat?” aku memandang Jisung oppa dihadapanku, lalu beralih memandang ponselku tanpa berniat menjawab pertanyaannya.

“Yeobosaeyo Kim Hwa Yeon-ssi. Boleh kutahu sedang apa sekarang” aku menelan salivaku susah payah. Suaranya dingin sekali!

“A-aku em.. s-sedang-“ Aku memutar cepat bola mataku mencoba mencari alasan yang logis. Tapi, oh ayolah! Akuu tidak bisa berfikir sama sekali!!

“Aiish! Katakan dimana kau sekarang!” aku tersentak kaget saat mendengar suara teriakan Kyuhyun oppa menggelegar.

“Di restaurant Itali favouriteku.” Jawabku takut. Aku melirik Jisung oppa yang kini tengah memandangku bingung dengan alis bertaut. Aku mengabaikannya, dan kembali berfokus pada ponselku.

“Aku akan segera kesana. Tunggu di sana!” MWOYA! Dia mau menyusulku? Yang benar saja! Kenapa dia menyebalkan sekali?!

“ANDWAE! KAU TIDAK BOLEH KE SINI! AKU SEDANG BERSAMA JISUNG OPPA! JANGAN GANGGU KAMI!” teriakku spontan. Wajahku memerah karena marah sekaligus malu. Aku mengerjapkan mataku sebentar, lalu menggeleng panik.
Ya Tuhan! Apa yang baru saja kukatakan?! Oh astaga, matilah aku.Oh Tuhan, bagaimana ini! Aaaa!

“Kau berani membentakku karena namja itu eoh?” Eotteokhae? Hiks.. apa yang harus ku lakukan?!
“tetap diam di sana atau kau akan menyesal.”

Bip!

Ah, bagaimana ini? Kyuhyun oppa pasti marah dan kecewa padaku. Apa yang harus kulakuan? Kenapa aku bodoh sekali? Aish! Aku pasti sudah gila saat membentaknya tadi. Ish! Ah sudahlah, pasrah saja. Aku sudah tidak bisa menghindar.

.

“Ada yang ingin kau jelaskan Kim Hwa Yeon –ssi?” aku memejamkan mataku sejenak saat mendengar suaranya yang begitu dingin. Aku bahkan tidak berani menatapnya sejak ia membawaku pergi dari restaurant tadi.
“A-aku… mianhae…” Aku semakin menundukkan kepalaku, menyamarkan air mata yang entah sejak kapan mulai mengalir di pipiku. Kugigit bibirku kuat-kuat saat ia tidak menjawab. Ia pasti sangat marah dan kecewa padaku.

*Author pov*

Kyuhyun memandang Hwa Yeon sedih. Ia tau, yeoja itu tengah menangis saat ini. Jelas saja ia merasa bersalah. Kyuhyun menghela nafasnya berat, lalu beringsut maju untuk merengkuh yeoja yang kini menunduk di hadapannya yang tengah berusaha untuk menyembunyikan air matanya.

“Mianhae.. uljima.” Ucap Kyuhyun lirih. Hwa Yeon membalas pelukan Kyuhyun, lalu menenggelamkan kepalanya di dada bidang Kyuhyun. Bahunya Hwa Yeon terus bergetar hebat, isakannya mulai terdengar. Kyuhyun hanya bisa tersenyum getir sambil berusaha menenangkan Hwa Yeon.

“Mianhae, jeongmal mianhae. Aku hanya takut kehilanganmu. Aku ingin kau tetap di sisiku. Aku ingin menjadikanmu milikku, tapi aku takut kau menolakku.” Hwa Yeon berhenti terisak seketika. Ia menengadahkan kepalanya ke atas, dan yang ditemukannya adalah wajah tampan Kyuhyun yang kini tengah menunduk menghadapnya.
“Saranghae.” Ucap Kyuhyun lirih. Hwa Yeon memejamkan matanya saat Kyuhyun berusaha mengikis jarak bibir mereka.

Chup

Hwa Yeon melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun erat. Jantungnya berdegup terlalu kencang, ia gugup, senang, malu, dan entahlah, semuanya bercampur menjadi satu. Kyuhyun tersenyum kecil tanpa Hwa Yeon ketahui.

aku bahkan tidak menggerakkan bibirku, tapi kenapa bibirnya bergetar hebat seperti ini? Ck, polos sekali. Batin Kyuhyun gemas.

Hwa Yeon memejamkan matanya sangat erat. Bibirnya bergetar hebat dan bahkan, ia menahan nafasnya.
Kyuhyun mulai menjauhkan wajah mereka, ia tersenyum geli saat Hwa Yeon tetap saja memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya lega.

“Lebih baik kita ke kamar.” Ucap Kyuhyun memecah keheningan. Hwa Yeon mengangguk lalu berbalik, hendak keluar dorm lantai 12. Kyuhyun mengerutkan keningnya bingung.

“Kau mau kemana Hwa Yeon-ah?” Tanya Kyuhyun Bingung. Hwa Yeon berbalik, kemudian memandang Kyuhyun dengan tatapan bingung pula.

“Kamar.” Ucap Hwa Yeon polos. Kyuhyun terdiam sejenak.

1 detik..
2 detik..

“Bwaaahahahahaha..”Kyuhyun tertawa terbahak-bahak mengabaikan Hwa Yeon yang merengut bingung.
perasaan aku tidak mengatakan lelucon. Kenapa Kyuhyun oppa tertawa sampai seperti ini? Aneh sekali. Batin Hwa Yeon sebal.

“Kamar kita, chagi. Kamar kita. Aigo, kenapa kau polos sekali? Kau terlalu sering bersama Ryeowook hyung!” #dibakaRyeosomnia.

“Kamar kita?” Tanya Hwa Yeon cengo. Namun sedetik kemudian, wajahnya memerah semerah tomat. Kyuhyun yang melihat reakssi polos sang yeoja hanya bisa terkikik geli.

“Kajja!” Kyuhyun menarik tangan Hwa Yeon lembut, membimbingnya ke dalam kamarnya, yang sebentar lagi akan berubah menjadi ‘kamar mereka’.

.

Keduanya kini terduduk dia di pinggir ranjang. Ranjang di kamar Kyuhyun, berbeda dengan ranjang di kamar lain. Kenapa? Karena hanya ranjangnya sendirilah yang berukuran King Size.
Kenapa hanya ranjangnya yang berukuran King Size? Tanyakan saja pada namja evil itu. Pasti jawabannya hanya ‘supaya luas saat melakukan ‘sesuatu’’. Ck ck ck.

“Oppa..” Hwa Yeon memulai percakapan setelah sekian lama berdiam.

“Eum..?”

“Apa oppa benar-benar mencintaiku sebagai yeoja?” Hwa Yeon memandang Kyuhyun tepat dimatanya, mencoba menyelidik kebenaran dari perkataan Kyuhyun.

“Tentu saja. Oppa mencintaimu sebagai seorang yeoja, bukan sebagai namja.” Jwab Kyuhyun jail.

“Ish oppa!!!”

“Arraseo, arraseo. Oppa mencintaimu, sebagai seorang yeoja tentu saja, bukan sebagai yadongsaeng.” Ucap Kyuhyun tegas. Mata Hwa Yeon bergerak-gerak seakan menelisik mata Kyuhyun, dan ia tidak menemukan kebohongan apapun di dalam sana.

“jinjja?” Tanya Hwa Yeon lebih kepada dirinya sendiri. Kyuhyun tersenyum simpul, ia beralih merengkuh tubuh Hwa Yeon ke dalam pelukannya lagi.

“Tentu saja. Bahkan sejak kita pertama kali bertemu.” Hwa Yeon memeluk Kyuhyun senang. Ia benar-benar merasa bahagia saat ini, dan ia yakin ini bukanlah mimpi.
“Pertama kali kita bertemu? Berarti saat aku datang ke dorm ne?” Tanya Hwa Yeon manja. Kyuhyun terkekeh geli lalu menggeleng.
“Aniya, Kita pernah ketemu jauh sebelum kau datang ke dorm.” jawab Kyuhyun penuh misteri. Hwa Yeon mengerutkan keningnya mencoba berfikir.
Kapan ia pernah bertemu Kyuhyun? Ia pertama kali bertemu Kyuhyun saat Kyuhyun masuk ke dalam Super Junior. Kapan lagi ia pernah bertemu Kyuhyun? Pasalnya, ia jarang sekali keluar rumah.

“Aku tidak ingat!” jawab Hwa Yeon frustasi. Ia sudah menjungkir balikkan otaknya, tapi ia sama sekali tidak tau kapan mereka bertemu sebelum berkenalan saat Kyuhyun resmi menjadi anggota Super Junior.
“Kau sama sekali tidak ingat? Kita pernah bertemu di toko buku Gangnam.” Hwa Yeon mencoba mengingat-ingat kembali kapan ia ke toko buku Gangnam.
“Ah! Geu Ahjussi!” teriak Hwa Yeon tiba-tiba. Kyuhyun hanya melongo tidak percaya karena dipanggil Ahjussi. Ia benar-benar tidak suka panggilan itu.

-o0o-

-flashback-

Bugh!

“Aawww.” Seorang Yeoja yang baru saja bertabrakan dengan seorang mahasiswa, terjatuh dengan tidak elitnya di lantai. Buku yang baru saja dibelinya, berceceran di lantai.

“Yah! Ahjussi! Liat-liat dong kalo jalan!” sembur yeoja itu sambil beringsut memungut buku-bukunya.

“Ah, jeongmal mianhae.” Namja yang tadi menabrak yeoja itu ikut membantu membereskan buku-buku yang berceceran, lalu memberikannya kembali pada yeoja itu.

“Hati-hati yah kalau jalan ahjussi, Aku pergi dulu. Anyyeong!” Yeoja itu berlalu pergi menghampiri namja lain yang tengah berdiri menunggunya tak jauh dari toko buku itu.
manis sekali yeoja itu. Eh, tapi kenapa ia memanggilku ahjussi? Apa wajahku terlihat setua itu? batin namja itu bingung. Lalu sedetik kemudian, ia menggendikkan bahunya acuh lalu melangkah pergi.

-flashback end-

-o0o-

“Jadi sudah ingat?” Tanya Kyuhyun lagi. Hwa Yeon hanya mengangguk lalu membiarkan kepalanya bersender di dada Kyuhyun.

“Jadi bagaimana dengan huungan kita? Apa kita berpacaran?” Tanya Hwa Yeon manja sambil memeluk pinggang Kyuhyun.
Bukannya menjawab, Kyuhyun malah beranjak dari ranjang, lalu mengambil sesuatu dari meja belajarnya. Kyuhyun memandang Hwa Yeon gugup lalu berdehem pelan.

“Hwa Yeon-ah.. menikahlah denganku.” Hwa Yeon melongo dan mengerjapkan matanya polos.

“MENIKAH?!” pekik Hwa Yeon heboh. Kyuhyun tersentak mundur saat mendengar lengkingan suara Hwa Yeon menggelegar ke seluruh penjuru kamar.

“Oppa, kau sudah gila?”

“Ani. Aku hanya ingin menjadikanmu milikku secara sah, entah itu dimata hukum ataupun dimata agama.” Hwa Yeon terperangah, ia benar-benar tidak menyangka kalau Kyuhyun bisa jadi sedewasa ini. Biasanya Kyuhyun sangatlah menyebalkan. Hehehe

“Apa kau yakin oppa? Bagaimana dengan para fansmu? Lalu agensimu?” Kyuhyun menggeleng pelan lalu menggenggam jemari Hwa Yeon yang entah sejak kapan sudah Kyuhyun pasangkan cincin bermata berlian di sana.
“Itu urusanku. Kau hanya perlu mengatakan ‘ya’ dan semuanya akan baik-baik saja.” Hwa Yeon meneteskan air matanya. Ia begitu terharu dengan sikap Kyuhyun. Kyuhyun terliat begitu mencintainya, dan ia bahagia akan hal itu.

“Ya, aku bersedia oppa.” Dalam sekejap, Kyuhyun membawa Hwa Yeon kedalam sebuah pagutan lembut yang penuh cinta. Bibir keduanya sambil melumat dan menyesap lembut, tak ada nafsu sama sekali di dalam pagutan lembut tersebut.

Mereka terlarut dengan kegiatan mereka tanpa menyadari kalau 10 pasang mata kini memandang mereka takjub.

“Aku tidak tau magnae kita bisa seperti itu.” Gumam Eunhyuk tiba-tiba. Kini ke-9 pasang mata beralih memandanginya. Mereka terdiam sejenak, lalu mengangguk-angguk membenarkan perkataan Eunhyuk.
“Aigo, dongsaengku yang polos jatuh hati pada seorang setan. Hah.. bagaimana ini? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hasilnya nanti.” Ucap Kangin frustasi.
Kyuhyun dan Hwa Yeon sama sekali tidak berniat melepas pagutan bibirnya walau suara-suara bising itu cukup mengganggu. Kyuhyun menjauhkan wajahnya, meraup nafas sebanyak-banyaknya lalu memandang Hwa Yeon kembali.

“Saranghae.” Tanpa menunggu jawaban Hwa Yeon, Kyuhyun kembali memagut bibir lembut Hwa Yeon dengan penuh cinta. Kyuhyun sudah tau pasti kalau Hwa Yeon mencintainya. Aigo, ia sungguh menyesal sekarang. Seharusnya sudah dari dulu ia bisa memiliki yeojanya, tapi egonya terlalu besar. Sampai-sampai setelah 7 tahun, barulah ia bisa mengungkapkan perasaannya kkk~

aku mencintainya dan ia mencintaiku. Kalimat itu terdengar biasa saja, tapi memiliki banyak makna dan kebahagian. Well, cinta itu sederhana. ^^
-o0o-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s